Sabtu, 18 April 2015

Oneshoot : Cause your Eyes

Oneshoot : Cause Your Eyes

Author : Alya Nirmala J.

•••

My Heart - ost BBF

"Mengapa kau selalu dingin padaku? Tak bisakah kau menerimaku? Lalu jelaskan apa yang bisa ku buat agar kau mencintaiku!"

Chelsea membuang mukanya ketika ditatap lekat oleh Bagas, lawan bicaranya. Dengan cepat ia melepaskan erangan erat lelaki itu, dan menghela nafas cepat.

"Aku mencintaimu!"

Chelsea menutup telinganya.

"Aku-- Mencintaimu-- kau dengar?"

Chelsea memicingkan matanya, seolah olah iris matanya hendak mencolok mata lelaki yang berada di hadapannya itu.

"Apa yang harus ku lakukan agar kau tau kalau aku sangat mencintaimu. Tulus dari hatiku dan tidak hanya karena parasmu dan harta bendamu"

"per--gi"

Bagas menggeleng cepat.

"Aku mohon, tolong dengar isi hatiku, Chelsea"

Chelsea menggeleng, "per-gi!"

Dengan mengeram keras Chelsea berhasil melepaskan erangan lelaki tersebut dan berlari kencang meninggalkannya.

•••

"Menerimanya? Terlalu susah bagimu?"

Chelsea menautkan kedua alisnya ke arah Cindai, karibnya.

Cindai yang mondar-mandir dihadapannya segera menghampirinya cepat.

"Aku janji, akan mendengar semua curahan hatimu"

Chelsea menggeleng, "tidak mau"

"Jika kau memendam sendiri, pasti kau tidak tenang bila menghadapinya, yang setiap hari mengejar kemanapun kau pergi"

Chelsea mengangkat salah satu alisnya, lalu menghirup udara dengan pelan.

Kedua matanya menyipit ke arah Cindai.

Lawan matanya itu mengangguk cepat mengerling bahwa ia tak sabar.

"Secara tiba-tiba aku gagap bila dia menarikku untuk menatap bola matanya"

Cindai shock ditempat, "sampai segitukah?"

Chelsea mengangguk, "Aku tak mau jatuh cinta. Aku tak mau membuka hatiku lagi. Sudah cukup sakit hatiku"

Cindai menatapnya kecil, lalu mengalihkan wajahnya.

"Maafkan aku membuatmu mengingat masa lalumu. Aku tak bermaksud-"

Perempuam berkulit hitam dan berwajah manis itu tersenyum, "tak mengapa"

•••

"Hanya sekali saja. Kamu tatap mataku, lihat betapa tulusnya aku mencintaimu. Sepersekian detik saja. Aku mohon. Tak bisakah kata yang keluar dari mulutmu selain kata 'pergi' ?"

Chelsea mendadak diam ditempat. Ia sudah lelah berlari kesana-kesini hanya untuk menghilangkan jejak dari lelaki yang terus mengejarnya itu, kemanapun.

Dengan cepat ia menggeleng sambil melepaskan tarikan tangan Bagas.

Sedangkan Bagas masih mengerang menarik tangannya kembali.

"Tatap bola mataku. Apakah sudah cukup aku membuktikan ketulusan ku?"

Dengan ragu-ragu Chelsea menatap bola mata Bagas. Dan ntah mengapa, ia hanya terdiam lemas dierangan Bagas tepat di hadapan matanya. Tak tau apa yang harus dilakukan, berulang kali ia menghirup oksigen bersih disekitar. Perempuan itu sangat terlihat canggung.

"Ketika aku memelukmu-"

Dengan cepat Chelsea melepaskan tangan lelaki yang mengait ke tubuhnya itu lalu berlari kencang saat hendak dipeluk.

"Dasar lelaki gila!"

•••

Chelsea menopang dagunya diatas meja dengan lipatan kedua tangannya sebagai penopang.

Ia melirik ke belakang kelas, lelaki tersebut tidak ada.

Bagas...

Pagi ini dia terkena hukuman karena seragamnya kotor akibat ulah Chelsea.

Pagi sekali ia mendatangi rumah Chelsea dengan seragam yang rapi.

Sedangkan perempuan itu masih dalam bunga tidurnya.

Pukul 04.00 AM dia datang dengan mobil pribadi yang dilengkapi supir di dalamnya, mendatangi kediaman Chelsea yang sangat terpencil.

Rumah tersebut besar, cukup mewah, dan untuk datang ke rumah tersebut, harus melewati tikungan yang ada.

"Aku ingin kau mengucapkan sesuatu padaku. Hanya sekali saja..."

Ketika Chelsea membuka pintu gerbang, ia sudah menemukan lelaki itu dengan rapi tepat dihadapannya membawa sebucket bunga.

Chelsea yang masih dengan piyama dan sendal rumahnya langsung menguap lebar.

Lelaki itu masih tersenyum melihat tingkahnya.

"Bagaimana?"

Chelsea menutup gerbang rumahnya tanpa mengucap sepatah kata pun pada lelaki tersebut.

Tak mau kalah, dengan setia Bagas menanti perempuan itu di depan rumah dengan senderan limosin hitamnya.

Hingga pukul 06.10, barulah Chelsea keluar dari gerbangnya dengan seragam rapi.

"Mau berangkat bersamaku?"tawar Bagas.

Chelsea berjalan terus tanpa melirik ke arah lelaki tersebut.

"Kau ingin berjalan saja?"

Chelsea melirik sekilas lelaki itu, lalu mengangguk acuh.

"Aku akan ikut bersamamu. Tak apa kan?" Dengan cepat Bagas menarik tasnya dalam mobil, lalu berjalan mendekatinya.

Chelsea menunjuk limosin hitam Bagas lalu bergerak seperti mengusir.

"Supirku akan membawanya. Tenang saja"

Chelsea menatap malas lelaki tersebut lalu kembali berjalan. Tak perduli Bagas yang mengikutinya dari belakang.

Saat mereka tengah berjalan, tiba tiba saja Bagas mensejajarkan jalannya dengan Chelsea lalu menarik tangan kirinya dan digenggam erat olehnya. Dingin, telapak tangan Chelsea dingin.

"Ap--?"

Saat Chelsea hendak bersuara untuk pertama kalinya, Bagas membuka jaketnya lalu melekatkannya pada perempuan tersebut lalu semakin mempererat genggamannya.

Chelsea hanya bisa diam ketika tubuhnya dilapisi jaket lelaki itu.

"Lepaskan!"

Chelsea meringis pelan saat ia sudah berhasil melepas genggaman erat Bagas, Bagas malah menggenggamnya lagi dengan erat.

" 'Lepaskan' adalah kata kedua yang sudah ku dengar dari mulutmu. Ku pikir kau bisu tak pernah merespon apa kataku, ternyata kau sangat perhatian padaku"

"Sangat perhatian bagaimana?!"

Bagas tersenyum kecil, ketika perempuan itu mulai sedikit membuka hati padanya, salah satunya dengan respon darinya.

"Dulu ku fikir kau memang sangat aneh dari yang ku bayangkan, tetapi perkiraanku salah. Kau perhatian saat aku menganggumu, lalu kau merespon dengan amarah"

"Memangnya amarah melalui suara itu salah satu bentuk perhatian?"

Bagas tersenyum lebar ketika Chelsea mulai mengikuti alur bicaranya.

"Bisa saja..."

Chelsea membuang mukanya saat Bagas tertawa kecil melihatnya.

"lepaskan tanganku!"

Bagas melepas pergelangan tangan Chelsea yang memerah.

"Lihat ulahmu!"

Bagas memicing matanya kecil pada Chelsea. Seketika itu Chelsea membuang mukanya lagi.

• Saat iris matanya benar-benar menusuk mataku, disaat itulah aku mulai membisu •

SRITTTTT

Bagas memeluk tubuh Chelsea dari belakang lalu memutar tubuhnya yang tadinya menghadap jalanan.

"Auh"

Bagas melepas pelukannya lalu melihat belakang seragamnya yang terkena becek seorang pengendara truk besar.

Chelsea yang tadinya hendak memarahinya langsung terdiam, "kau tak apa?"

Bagas menggeleng lalu tersenyum menatapnya.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan. 15 menit lagi waktu akan berakhir, aku ingin cepat mengganti seragamku. Tak perduli akan dihukum nantinya. Ayo!"

Bagas menarik tangan Chelsea lalu berlari di setapak jalanan yang masih berbau hujan tadi malam.

Chelsea hanya diam melihatnya yang begitu semangat menggenggam tangannya untuk diajak berlari.

Hingga sampai sekolah, peraturan umum diterapkan. Walau Bagas anak dari pemilik yayasan sekolah, ia harus dihukum karena seragamnya kotor.

Chelsea hanya mengangkat tangan, tak tau apa yang harus dilakukannya lagi.

•••

Saat jam istirahat tiba, tanpa aba-aba Bagas mendatanginya lalu merebahkan tubuhnya di samping bangku Chelsea.

Chelsea melirik ke arah sampingnya, lelaki itu penuh dengan keringat.

"Kau habis diapakan sampai segitunya?"tanya Chelsea sambil membalikkan tangan Bagas yang merangkul tubuhnya.

Bagas nyengir pelan lalu sedikit berpikir, "Sekarang seragamku sudah bersih kan? Aku semakin terlihat tampan"

Chelsea mengerutkan dahinya, lalu menggeleng cepat.

Tangannya menyelinap ke dalam lembaran bukunya, mengambil sesuatu.

Dengan cepat Chelsea menyerahkan sebuah kertas padanya lalu beranjak meninggalkannya.

Bagas mengerutkan dahinya, "aku disuruh membaca?"

Maafkan aku sudah merepotkanmu 🔓


Tanpa sadar, Bagas tersenyum. Ia langsung mengambil kertas tersebut lalu berdiri ingin menemui gadis itu.

Cepat, Bagas mengejar Chelsea yang menghilang dikerumunan anak sekolah.

Ia menyelinap dari kerumunan itu, berniat untuk menghampiri gadis tersebut.

Sambil berlari, ia terus menatap kertas tersebut.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang, "apa tanda kunci tersebut?"

•••

Moment-ost The Heirs

"Chelsea tak hadir hari ini"

Bagas menghembuskan nafas berat. Kemanakah gadis itu?

Sejak pemberian kertasnya kemarin, Bagas tak lagi melihatnya.

Ntah kemana dia. Bagas sudah mendatangi rumahnya, bertanya pada Cindai, tetapi tak ada jawaban yang memungkinkan.

"Chelsea sedang ada urusan. Dia berpesan padaku untukmu, jangan mencarinya."

Bagas terdiam sejenak, "Urusan yang sangat penting?"

Cindai mengangguk.

"Sepenting apa?"

"Maaf, aku tak tau itu"

•••

Akhir-akhir ini, lelaki itu mendadak menjadi pendiam. Biasanya, begitu semangatnya ia jika waktu istirahat tiba, waktu yang dapat ia gunakan untuk mengganggu Chelsea.

Tapi, sosok yang duduk di bangku paling depan itu tak ada. Bangkunya kerap berdebu, sudah ditinggal dua minggu oleh sang pemilik.

"Bagaimana keterangan Chelsea?"

"Absen"

"Tidak sakit? Tidak izin?"

Sekretaris kelas itu menggeleng.

•••

Chelsea menatap sosok lelaki dihadapannya. Lelaki itu menangis dipelukannya. Raut wajahnya yang sedikit pucat ditambah ringisan dibalik suara.

"kau sangat tega meninggalkanku!"

Chelsea diam melihat tingkah lelaki itu. Dengan cepat ia melepaskan pelukan erat si lelaki.

"Aku rindu padamu" Lelaki itu kembali memeluknya.

Chelsea terdiam tanpa ekspresi sekalipun. Ia kembali melepaskan pelukan itu dan sedikit menjauh.

"Aku mencintaimu"

Chelsea menundukkan kepalanya, ketika Bagas menatapnya dalam posisi yang sedikit berjauhan.

"Kau terlalu childish bagiku"ucapnya.

Bagas menautkan alisnya, "karena aku mencintaimu"

Chelsea menggeleng, "sudahlah"

Bagas menatap punggung perempuan yang kian menjauh itu.

"berhentilah"

Langkah kaki Chelsea tetap berjalan disetapak jalanan.

"Ku mohon berhentilah"

Chelsea mengacuhkan perkataannya, ia tetap pada pendiriannya. Berjalan terus.

"Berhenti!"

Bagas berlari mengejarnya lalu memeluknya dari belakang dengan cepat.

Chelsea terdiam tak dapat bergerak.

Ia berusaha melepaskan pelukan erat itu, tetapi eratan Bagas lebih kuat darinya.

"Ku mohon, lepaskan"tutur Chelsea pelan.

Bagas melepas pelukannya hanya dalam beberapa saat.

Ia membalikkan tubuh Chelsea ke hadapannya.

"Harus apa lagi yang ku lakukan agar kau percaya padaku bahwa aku mencintaimu? Haruskah aku berteriak ditelingamu hingga kau benar benar mendengarnya?"teriak Bagas.

Chelsea terdiam lalu menunduk.

"Aku sudah lelah mencarimu. Aku juga lelah harus berapa kali menjelaskan padamu bahwa aku mencintaimu... Coba bayangkan, jika kau berada diposisiku."

Chelsea mengangkat wajahnya. Menatap  kedua mata lelaki itu dengan ragu.

Tangannya bergerak menunjuk mulutnya lalu menggeleng.

Bagas memegang erat kedua tangannya dengan cepat.

"Katakan padaku, jika kau juga mencintaiku"

Chelsea menggeleng.

"Aku akan menutup mataku, lalu kau ucapkan saat itu juga"

Chelsea bergelimang ragu.

Dengan cepat Bagas menutup matanya setelah sebelumnya berbisik pada Chelsea, "sesuai dengan hatiku, aku mencintaimu"

Chelsea terdiam ketika Bagas menutup kedua matanya.

Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tetapi tangan Bagas bergerak memberi isyarat padanya.

"Akkk-"

Tangan Bagas menggenggam jemarinya yang sudah berkeringat.

"Akku--"

Bagas memegang kedua bahunya, "percaya padaku"bisiknya.

Chelsea menghela nafasnya dengan berat.

Ia menatap kedua mata Bagas yang tertutup dan kedua tangannya yang memegang bahunya.

"Aku mencintaimu"

Bagas membuka matanya lalu tersenyum.

"terlalu susah untuk membalas hasil jerih payahku selama ini untuk mendapatkan dua kata dari mulutmu?"

Chelsea tertunduk. Tanpa sadar, air matanya menetes.

"Maafkan aku"

Bagas menegakkan wajahnya, perlahan tangannya bergerak menghapus air matanya.

"Tak mengapa. Tapi aku senang, karena kini kau telah menjadi milikku"

Chelsea tersenyum pelan. Ia menatap kedua bola mata lelaki itu.

Tanpa keraguan...

Sekali tarik, ia berhasil merengkuh lelaki itu dalam pelukan.

"Maafkan aku"

Bagas membalas pelukannya sambil tersenyum bahagia.

"I thankyou for you loving me"

TBC




Tidak ada komentar:

Posting Komentar