Sabtu, 18 April 2015

Oneshoot : Cause your Eyes

Oneshoot : Cause Your Eyes

Author : Alya Nirmala J.

•••

My Heart - ost BBF

"Mengapa kau selalu dingin padaku? Tak bisakah kau menerimaku? Lalu jelaskan apa yang bisa ku buat agar kau mencintaiku!"

Chelsea membuang mukanya ketika ditatap lekat oleh Bagas, lawan bicaranya. Dengan cepat ia melepaskan erangan erat lelaki itu, dan menghela nafas cepat.

"Aku mencintaimu!"

Chelsea menutup telinganya.

"Aku-- Mencintaimu-- kau dengar?"

Chelsea memicingkan matanya, seolah olah iris matanya hendak mencolok mata lelaki yang berada di hadapannya itu.

"Apa yang harus ku lakukan agar kau tau kalau aku sangat mencintaimu. Tulus dari hatiku dan tidak hanya karena parasmu dan harta bendamu"

"per--gi"

Bagas menggeleng cepat.

"Aku mohon, tolong dengar isi hatiku, Chelsea"

Chelsea menggeleng, "per-gi!"

Dengan mengeram keras Chelsea berhasil melepaskan erangan lelaki tersebut dan berlari kencang meninggalkannya.

•••

"Menerimanya? Terlalu susah bagimu?"

Chelsea menautkan kedua alisnya ke arah Cindai, karibnya.

Cindai yang mondar-mandir dihadapannya segera menghampirinya cepat.

"Aku janji, akan mendengar semua curahan hatimu"

Chelsea menggeleng, "tidak mau"

"Jika kau memendam sendiri, pasti kau tidak tenang bila menghadapinya, yang setiap hari mengejar kemanapun kau pergi"

Chelsea mengangkat salah satu alisnya, lalu menghirup udara dengan pelan.

Kedua matanya menyipit ke arah Cindai.

Lawan matanya itu mengangguk cepat mengerling bahwa ia tak sabar.

"Secara tiba-tiba aku gagap bila dia menarikku untuk menatap bola matanya"

Cindai shock ditempat, "sampai segitukah?"

Chelsea mengangguk, "Aku tak mau jatuh cinta. Aku tak mau membuka hatiku lagi. Sudah cukup sakit hatiku"

Cindai menatapnya kecil, lalu mengalihkan wajahnya.

"Maafkan aku membuatmu mengingat masa lalumu. Aku tak bermaksud-"

Perempuam berkulit hitam dan berwajah manis itu tersenyum, "tak mengapa"

•••

"Hanya sekali saja. Kamu tatap mataku, lihat betapa tulusnya aku mencintaimu. Sepersekian detik saja. Aku mohon. Tak bisakah kata yang keluar dari mulutmu selain kata 'pergi' ?"

Chelsea mendadak diam ditempat. Ia sudah lelah berlari kesana-kesini hanya untuk menghilangkan jejak dari lelaki yang terus mengejarnya itu, kemanapun.

Dengan cepat ia menggeleng sambil melepaskan tarikan tangan Bagas.

Sedangkan Bagas masih mengerang menarik tangannya kembali.

"Tatap bola mataku. Apakah sudah cukup aku membuktikan ketulusan ku?"

Dengan ragu-ragu Chelsea menatap bola mata Bagas. Dan ntah mengapa, ia hanya terdiam lemas dierangan Bagas tepat di hadapan matanya. Tak tau apa yang harus dilakukan, berulang kali ia menghirup oksigen bersih disekitar. Perempuan itu sangat terlihat canggung.

"Ketika aku memelukmu-"

Dengan cepat Chelsea melepaskan tangan lelaki yang mengait ke tubuhnya itu lalu berlari kencang saat hendak dipeluk.

"Dasar lelaki gila!"

•••

Chelsea menopang dagunya diatas meja dengan lipatan kedua tangannya sebagai penopang.

Ia melirik ke belakang kelas, lelaki tersebut tidak ada.

Bagas...

Pagi ini dia terkena hukuman karena seragamnya kotor akibat ulah Chelsea.

Pagi sekali ia mendatangi rumah Chelsea dengan seragam yang rapi.

Sedangkan perempuan itu masih dalam bunga tidurnya.

Pukul 04.00 AM dia datang dengan mobil pribadi yang dilengkapi supir di dalamnya, mendatangi kediaman Chelsea yang sangat terpencil.

Rumah tersebut besar, cukup mewah, dan untuk datang ke rumah tersebut, harus melewati tikungan yang ada.

"Aku ingin kau mengucapkan sesuatu padaku. Hanya sekali saja..."

Ketika Chelsea membuka pintu gerbang, ia sudah menemukan lelaki itu dengan rapi tepat dihadapannya membawa sebucket bunga.

Chelsea yang masih dengan piyama dan sendal rumahnya langsung menguap lebar.

Lelaki itu masih tersenyum melihat tingkahnya.

"Bagaimana?"

Chelsea menutup gerbang rumahnya tanpa mengucap sepatah kata pun pada lelaki tersebut.

Tak mau kalah, dengan setia Bagas menanti perempuan itu di depan rumah dengan senderan limosin hitamnya.

Hingga pukul 06.10, barulah Chelsea keluar dari gerbangnya dengan seragam rapi.

"Mau berangkat bersamaku?"tawar Bagas.

Chelsea berjalan terus tanpa melirik ke arah lelaki tersebut.

"Kau ingin berjalan saja?"

Chelsea melirik sekilas lelaki itu, lalu mengangguk acuh.

"Aku akan ikut bersamamu. Tak apa kan?" Dengan cepat Bagas menarik tasnya dalam mobil, lalu berjalan mendekatinya.

Chelsea menunjuk limosin hitam Bagas lalu bergerak seperti mengusir.

"Supirku akan membawanya. Tenang saja"

Chelsea menatap malas lelaki tersebut lalu kembali berjalan. Tak perduli Bagas yang mengikutinya dari belakang.

Saat mereka tengah berjalan, tiba tiba saja Bagas mensejajarkan jalannya dengan Chelsea lalu menarik tangan kirinya dan digenggam erat olehnya. Dingin, telapak tangan Chelsea dingin.

"Ap--?"

Saat Chelsea hendak bersuara untuk pertama kalinya, Bagas membuka jaketnya lalu melekatkannya pada perempuan tersebut lalu semakin mempererat genggamannya.

Chelsea hanya bisa diam ketika tubuhnya dilapisi jaket lelaki itu.

"Lepaskan!"

Chelsea meringis pelan saat ia sudah berhasil melepas genggaman erat Bagas, Bagas malah menggenggamnya lagi dengan erat.

" 'Lepaskan' adalah kata kedua yang sudah ku dengar dari mulutmu. Ku pikir kau bisu tak pernah merespon apa kataku, ternyata kau sangat perhatian padaku"

"Sangat perhatian bagaimana?!"

Bagas tersenyum kecil, ketika perempuan itu mulai sedikit membuka hati padanya, salah satunya dengan respon darinya.

"Dulu ku fikir kau memang sangat aneh dari yang ku bayangkan, tetapi perkiraanku salah. Kau perhatian saat aku menganggumu, lalu kau merespon dengan amarah"

"Memangnya amarah melalui suara itu salah satu bentuk perhatian?"

Bagas tersenyum lebar ketika Chelsea mulai mengikuti alur bicaranya.

"Bisa saja..."

Chelsea membuang mukanya saat Bagas tertawa kecil melihatnya.

"lepaskan tanganku!"

Bagas melepas pergelangan tangan Chelsea yang memerah.

"Lihat ulahmu!"

Bagas memicing matanya kecil pada Chelsea. Seketika itu Chelsea membuang mukanya lagi.

• Saat iris matanya benar-benar menusuk mataku, disaat itulah aku mulai membisu •

SRITTTTT

Bagas memeluk tubuh Chelsea dari belakang lalu memutar tubuhnya yang tadinya menghadap jalanan.

"Auh"

Bagas melepas pelukannya lalu melihat belakang seragamnya yang terkena becek seorang pengendara truk besar.

Chelsea yang tadinya hendak memarahinya langsung terdiam, "kau tak apa?"

Bagas menggeleng lalu tersenyum menatapnya.

"Ayo kita lanjutkan perjalanan. 15 menit lagi waktu akan berakhir, aku ingin cepat mengganti seragamku. Tak perduli akan dihukum nantinya. Ayo!"

Bagas menarik tangan Chelsea lalu berlari di setapak jalanan yang masih berbau hujan tadi malam.

Chelsea hanya diam melihatnya yang begitu semangat menggenggam tangannya untuk diajak berlari.

Hingga sampai sekolah, peraturan umum diterapkan. Walau Bagas anak dari pemilik yayasan sekolah, ia harus dihukum karena seragamnya kotor.

Chelsea hanya mengangkat tangan, tak tau apa yang harus dilakukannya lagi.

•••

Saat jam istirahat tiba, tanpa aba-aba Bagas mendatanginya lalu merebahkan tubuhnya di samping bangku Chelsea.

Chelsea melirik ke arah sampingnya, lelaki itu penuh dengan keringat.

"Kau habis diapakan sampai segitunya?"tanya Chelsea sambil membalikkan tangan Bagas yang merangkul tubuhnya.

Bagas nyengir pelan lalu sedikit berpikir, "Sekarang seragamku sudah bersih kan? Aku semakin terlihat tampan"

Chelsea mengerutkan dahinya, lalu menggeleng cepat.

Tangannya menyelinap ke dalam lembaran bukunya, mengambil sesuatu.

Dengan cepat Chelsea menyerahkan sebuah kertas padanya lalu beranjak meninggalkannya.

Bagas mengerutkan dahinya, "aku disuruh membaca?"

Maafkan aku sudah merepotkanmu 🔓


Tanpa sadar, Bagas tersenyum. Ia langsung mengambil kertas tersebut lalu berdiri ingin menemui gadis itu.

Cepat, Bagas mengejar Chelsea yang menghilang dikerumunan anak sekolah.

Ia menyelinap dari kerumunan itu, berniat untuk menghampiri gadis tersebut.

Sambil berlari, ia terus menatap kertas tersebut.

Yang menjadi pertanyaannya sekarang, "apa tanda kunci tersebut?"

•••

Moment-ost The Heirs

"Chelsea tak hadir hari ini"

Bagas menghembuskan nafas berat. Kemanakah gadis itu?

Sejak pemberian kertasnya kemarin, Bagas tak lagi melihatnya.

Ntah kemana dia. Bagas sudah mendatangi rumahnya, bertanya pada Cindai, tetapi tak ada jawaban yang memungkinkan.

"Chelsea sedang ada urusan. Dia berpesan padaku untukmu, jangan mencarinya."

Bagas terdiam sejenak, "Urusan yang sangat penting?"

Cindai mengangguk.

"Sepenting apa?"

"Maaf, aku tak tau itu"

•••

Akhir-akhir ini, lelaki itu mendadak menjadi pendiam. Biasanya, begitu semangatnya ia jika waktu istirahat tiba, waktu yang dapat ia gunakan untuk mengganggu Chelsea.

Tapi, sosok yang duduk di bangku paling depan itu tak ada. Bangkunya kerap berdebu, sudah ditinggal dua minggu oleh sang pemilik.

"Bagaimana keterangan Chelsea?"

"Absen"

"Tidak sakit? Tidak izin?"

Sekretaris kelas itu menggeleng.

•••

Chelsea menatap sosok lelaki dihadapannya. Lelaki itu menangis dipelukannya. Raut wajahnya yang sedikit pucat ditambah ringisan dibalik suara.

"kau sangat tega meninggalkanku!"

Chelsea diam melihat tingkah lelaki itu. Dengan cepat ia melepaskan pelukan erat si lelaki.

"Aku rindu padamu" Lelaki itu kembali memeluknya.

Chelsea terdiam tanpa ekspresi sekalipun. Ia kembali melepaskan pelukan itu dan sedikit menjauh.

"Aku mencintaimu"

Chelsea menundukkan kepalanya, ketika Bagas menatapnya dalam posisi yang sedikit berjauhan.

"Kau terlalu childish bagiku"ucapnya.

Bagas menautkan alisnya, "karena aku mencintaimu"

Chelsea menggeleng, "sudahlah"

Bagas menatap punggung perempuan yang kian menjauh itu.

"berhentilah"

Langkah kaki Chelsea tetap berjalan disetapak jalanan.

"Ku mohon berhentilah"

Chelsea mengacuhkan perkataannya, ia tetap pada pendiriannya. Berjalan terus.

"Berhenti!"

Bagas berlari mengejarnya lalu memeluknya dari belakang dengan cepat.

Chelsea terdiam tak dapat bergerak.

Ia berusaha melepaskan pelukan erat itu, tetapi eratan Bagas lebih kuat darinya.

"Ku mohon, lepaskan"tutur Chelsea pelan.

Bagas melepas pelukannya hanya dalam beberapa saat.

Ia membalikkan tubuh Chelsea ke hadapannya.

"Harus apa lagi yang ku lakukan agar kau percaya padaku bahwa aku mencintaimu? Haruskah aku berteriak ditelingamu hingga kau benar benar mendengarnya?"teriak Bagas.

Chelsea terdiam lalu menunduk.

"Aku sudah lelah mencarimu. Aku juga lelah harus berapa kali menjelaskan padamu bahwa aku mencintaimu... Coba bayangkan, jika kau berada diposisiku."

Chelsea mengangkat wajahnya. Menatap  kedua mata lelaki itu dengan ragu.

Tangannya bergerak menunjuk mulutnya lalu menggeleng.

Bagas memegang erat kedua tangannya dengan cepat.

"Katakan padaku, jika kau juga mencintaiku"

Chelsea menggeleng.

"Aku akan menutup mataku, lalu kau ucapkan saat itu juga"

Chelsea bergelimang ragu.

Dengan cepat Bagas menutup matanya setelah sebelumnya berbisik pada Chelsea, "sesuai dengan hatiku, aku mencintaimu"

Chelsea terdiam ketika Bagas menutup kedua matanya.

Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, tetapi tangan Bagas bergerak memberi isyarat padanya.

"Akkk-"

Tangan Bagas menggenggam jemarinya yang sudah berkeringat.

"Akku--"

Bagas memegang kedua bahunya, "percaya padaku"bisiknya.

Chelsea menghela nafasnya dengan berat.

Ia menatap kedua mata Bagas yang tertutup dan kedua tangannya yang memegang bahunya.

"Aku mencintaimu"

Bagas membuka matanya lalu tersenyum.

"terlalu susah untuk membalas hasil jerih payahku selama ini untuk mendapatkan dua kata dari mulutmu?"

Chelsea tertunduk. Tanpa sadar, air matanya menetes.

"Maafkan aku"

Bagas menegakkan wajahnya, perlahan tangannya bergerak menghapus air matanya.

"Tak mengapa. Tapi aku senang, karena kini kau telah menjadi milikku"

Chelsea tersenyum pelan. Ia menatap kedua bola mata lelaki itu.

Tanpa keraguan...

Sekali tarik, ia berhasil merengkuh lelaki itu dalam pelukan.

"Maafkan aku"

Bagas membalas pelukannya sambil tersenyum bahagia.

"I thankyou for you loving me"

TBC




Sabtu, 04 April 2015

When They Become Parents : My Everyhing (2) #MyHeartWillGoOn

When They Become Parents : My Everything (2) or #MyHeartWillGoOn

Author : Alya Nirmala

ΠΠΠ

"Dede bayi, kamu jangan
bandel diperut mama ya!"

Seulas senyuman direkah Chelsea ketika mendengar perkataan anak perempuannya, Thalita.

Bagas yang tengah sibuk dengan koran pagi yang baru diantar oleh loper koran langganan langsung menoleh ke arah mereka berdua.

"Dede bayinya gak bandel Thalita, kamunya aja yang bandel"

Anak cantik itu berjalan pelan mendekati ayahnya dengan wajah merah padam.

"Papa bilang apa?"

Bagas tersenyum tanpa dosa di depannya.

"Udah jangan berantem. Masih pagi lho..."lerai Chelsea.

Bagas nyengir, Thalita cengengesan. Dengan cepat Thalita naik ke atas paha ayahnya minta dipangku.

"Ih Thalita, papa masih baca koran lho"

Perempuan kecil itu nyengir kembali, "Papa kok bisa ganteng banget sih? Ih jadi gemes"

Chelsea menyembulkan tawanya kala anaknya memuji sang ayah hanya karena ingin dipangku.

Bagas cekikikan mendengarnya, "Papa kan emang ganteng. Jelas..."

Thalita terdiam sejenak, menatap sang ayah di hadapannya. "Gak jadi deh. Papa bau... Ih"

Bagas mencium bajunya, "Enggak kok. Apaan Thalita is"

Dengan cepat, perempuan kecil itu memeluk sang ayah. "Bohong kok. Hehe"

Bagas menggelitiki anak chubbynya tersebut.

ΠΠΠ

"Sayang, gak terasa dua bulan lagi kita punya anak lagi ya"

Chelsea mengulum senyumnya, kemudian mengangguk pelan.

"Maafin aku ya. Jadi ngerepotin kamu. Apa apa kamu yang ngerjain"

Bagas mengangguk sambil tersenyum, "Gak papa kok"

Chelsea membalas senyumnya, matanya melirik perutnya yang sudah membesar.

"Anak kita nanti dua. Namanya siapa ya?"tanya Bagas.

"Kemaren udah diusg, dan katanya perempuan"

"Kalau nama anak perempuan banyak banget loh gas"lanjutnya.

"Nanti aku cari oke. Kamu pikirin kandungan kamu aja. Kamu dan jabang bayi kita sehat, udah berarti bagi aku. Thalita aku yang ngurus 😘 "
Bagas mengecup puncak kepala Chelsea.

Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk.

ΠΠΠ

"Ma, Thalita punya tiga barbie. Satu namanya Chelsea, satu namanya Thalita, satu namanya Chila"

Chelsea tersenyum. "Chila siapa sayang?"

"Chila nama dede buatan Thalita. Namanya lucu kan?"

Chelsea terdiam lalu mengangguk, "bagus kok sayang. Thalita memang anak mama yang pinter!"

Thalita tersenyum, kemudian ia membawa salah satu barbienya yang tadi disebut Chila ke dekat mamanya.

"Chila, semoga besar nanti kamu sama seperti barbie kakak ya"

Chelsea tertawa pelan. "Iya kakak Thalita" Ia memperagakan seolah-olah yang berbicara adalah si jabang bayi.

"Baiklah. Janji ya! Kakak pengen kamu cepat lahir, cepat besar, biar bisa main sama kakak"

"Iya kakak. Chila janji" Chelsea meraih wajah Thalita lalu memainkan hidungnya.

"Mama sayang sama Thalita!"

ΠΠΠ

"Jadi namanya Chila?"

Chelsea mengangguk, "Thalita punya usul, Chila aja ya gas"

Bagas menatap Thalita yang terlelap di sampingnya.

"Anak kita pinter banget..."

Chelsea mengangguk, "tentu dong"
Bagas mengangguk sambil mengecup pipi sang anak pelan.

"Oh iya sayang, lusa aku ada meeting diluar kota lho. Aku takut banget ninggalin kalian"

"Gak papa kok. Memangnya berapa hari?"

"Kira-kira tiga hari. Jujur aku udah nolak, tapi clien aku gak bisa katanya"

Chelsea terdiam sejenak, "Gak papa kok. Pokoknya Chila dan Thalita aman sama aku. Mudah-mudahan"

"Amin"

ΠΠΠ

Esok malamnya, Chelsea mengeluh keras, sakit pada perutnya sangat di deritanya. Bagas yang tengah prepare menjadi khawatir.

"Masih sakit ya sayang?"

"Sakit banget gas." Chelsea berbaring dibantu dengan Bagas.  Sedangkan Thalita memeluk sang ibu.

"Aku batalin aja ya. Aku gak tega liat kamu begini" Bagas menggenggam erat tangan Chelsea yang dingin.

Dengan keringat bercucuran, Chelsea menggeleng.

"Udah kamu pergi aja. Jangan di delay. Nanti client kamu pada marah..."

"Enggak. Aku gak bisa... Delay aja. Nanti aku bicara baik-baik" tutur Bagas sambil mengusap dahinya.

Chelsea menggeleng, "terserah... Sakit banget"

ΠΠΠ

Wanita muda itu menangis dipelukan Bagas. "Maaf banget gas😢 karena aku semalam, kamu jadi kehilangan client kamu 😢 hiks "

Bagas menggeleng sambil membelai rambutnya.

"Gak papa. Aku lega kalau kamu udah gak ngerasa sakit lagi sayang😘 Aku mencintaimu"

Chelsea menghela nafasnya. Begitu adilnya tuhan memberikannya pasangan hidup seperti Bagas, hingga akhir hayatnya.

ΠΠΠ

"Hari ini kita bagi tugas. Thalita ngelap kaca. Papa nyapu sama ngepel. Oke?"

Bagas bertos ria dengan Thalita. Chelsea yang melihatnya tersenyum perih, "Maafin mama gak bisa bantuin kalian..."

Thalita tersenyum melirik sang ayah kecil.

"Mama bawel kan? Udah dibilangin mama jaga Chila aja... Ih bandel"

Chelsea tersenyum mendengar celetukan putrinya.

"Iya iya. Mama ikut bantuin aja ya. Mama hm"

"Gak usah ma. Mama bandel ih"

"Kamu bantu dengan doa aja yahh"ucap Bagas sambil mengunci kamarnya yang dalamnya Chelsea. Ia dan Thalita bertos ria kembali.

"Asal Chila dan Mama sehat!"

ΠΠΠ

"Asal Chila dan Mama sehat"

Chelsea tersenyum lirih mendengar kecil celetukan dan yel-yel mereka selama mengerjakan tugas rumah.

Chelsea tersenyum kembali dari balik pintu ketika mendengar tugas tersebut mereka kerjakan dengan senang hati.

"Maafin mama..."

ΠΠΠ

Usia kandungan Chelsea hampir menginjak usia 8 bulan. Ia masih berhati-hati menjaga jabang bayi yang ada. Dengan tekun pula Bagas memberinya makan-makan yang sehat. Olahraga teratur kiat dilakukannya pagi dan sore.

Dan saat ini, keluarga kecil itu tengah menyantap sebuah pie hangat dan secangkir kopi.

Tetapi ditengah-tengah jamuan, ponsel Bagas yang diatas meja berdering.

Bagas menaikkan alisnya isyarat pamit sebentar untuk mengangkat telepon.

Kira-kira sepuluh menit ia bertelepon dengan sang penelpon di seberang, dan setelah itu kembali dengan wajah tegang.

"Ada apa gas?"tanya Chelsea sambil memakan biskuitnya.

"Sayang--"

"Ih papa kaya dikejer setan terus ngegombal deh. Sayang sayang"celetuk Thalita.

Chelsea tertawa kecil, "gak boleh gitu sayang, hihi"

"Papa serius ath. "

"Iya iya. ada apa sih?"

"Ada meeting diluar kota. Dan itu wajib... panggilan terakhir"

Chelsea terdiam. "Yaudah nggak papa kok. Thalita sama aku."

"Aku gak yakin deh.. Gimana nih?"

"Oh.. Nanti aku coba panggil Tissa, di bandung. Manatau bisa."

"Oh iya. Aku baru inget... "

Chelsea nyengir, "Thalita bisa kok sama mama. ya kan sayang?"

ΠΠΠ

"Aduh"

Chelsea menahan rasa sakitnya diperut.

Bagaimana ini?

Dua jam lagi Bagas akan segera berangkat menuju Bogor. 

Chelsea benar benar tidak boleh mengadu pada Bagas sekarang.

Tidak. Dia harus kuat.

Chelsea meremas bajunya. "Ya tuhan..."

Perlahan jatuh air mata dari pelupuk matanya, "gak boleh"

ΠΠΠ

"Jadi kapan datengnya si Tissa Chels?"

"besok gas. Kamu tenang aja yah"

Bagas tersenyum, ia melirik peralatan kerjanya. "Kamu gak kerasa sakit kan?"

Chelsea terdiam.

"Chels? gak sakit?"

Chelsea menggigit bibir bawahnya, dengan cepat ia menggeleng.

"Papa tenang aja. Thalita bakal jagain mama." sembulnya.

Chelsea tersenyum perih, "iya sayang"

Bagas tersenyum setelah berpikir sejenak. Ada yang aneh...

"kok feel aku gak enak yah? Eh... gak boleh"tuturnya pelan.

Chelsea menggeleng, "Hati hati ya sayang. Doain, gak ada apa-ap--"

Chelsea mulai merasakan pusing dikepalanya. "Iya... Aku bakal doain kalian. Papa pergi dulu ya"

Chelsea mengangguk, ia mencium tangan Bagas dan pipinya. Begitu juga dengan Thalita.

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua" pekik Bagas melirik perut Chelsea.

"Iya papa"

Chelsea tersenyum ketika melihat sosok lelaki itu mulai menaiki mobil.

"I'm Sorry if later, I let you down~"

ΠΠΠ

'PLANG'

Gelas itu terpecah belah karena ulah Bagas yang sedang tidak berkonsentrasi.

Bagas berusaha menepis firasat buruknya.

"Astagfirullah, Mudah-mudahan gak terjadi apa-apa ya Allah"

ΠΠΠ

"Sayang, nanti kamu dijemput sama tante Tissa yah"bisik Chelsea pelan sekali.

Thalita heran pada tingkahnya saat ini. Aneh

"Suara mama kok kecil gitu sih?"

"Nggak sayang. Lagi batuk serak"alibinya.

Thalita mengangguk, "yaudah ma. Thalita  pergi sekolah dulu ya. Kalau ada apa-apa mang Usup satpam ada kan di luar? "

Chelsea tersenyum, "iya sayang. Hati hati ya"

ΠΠΠ

Tap
Tap
Tap

Chelsea mulai merasa kepalanya sempoyongan. Perutnya yang semalaman nyeri, mulai reda. Hanya sedikit rasanya.

Ia duduk dengan suara ketukan sandal rumahnya pengisi suara.

Seakan-akan ingatannya terngiang ketika Bagas masih disini kemarin ketika ia mengucapkan kalimat pada sang jabang bayi.

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya.
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua"

Tidak.

Pikirannya mulai melesat ntah kemana. Dadanya seakan tertarik sementara.

Chelsea mulai merebahkan dirinya sementara dikursi. Berjalan ke kamar saja ia tak mampu.

Ia berdiam sementara di dekat kursi tersebut.

Hingga ...

ΠΠΠ

"Chels, gue dateng... Halo"

"Mamaaaa"

Teriakan itu membangunkan Chelsea dari gumamannya.

Ia mulai berdiri dan menatap Thalita dan Tissa sudah ada diambang pintu.

"Hai sayang..."

Ia mulai menjajaki tangga dirumahnya. Dengan pikiran melayang dan wajah pucat pasi, ia turun pelan-pelan.

Tissa yang melihat hal tersebut mulai berpikiran buruk.

Sedangkan Chelsea masih pada gema pikirannya,

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua"

Ucapan Bagas terus melayang dibenaknya.

PLTAK

Sandal Chelsea melesat di area tangga.

"MAMAAAA!!!!"

ΠΠΠ

'SRITTT'

"Gas, lo bawa mobil gimana sih?! lo mau bunuh diri? Hampir aja nabrak pohon tau!" tukas Difa, karibnya.

Bagas mengacak-acak rambutnya, "lo ngertian dikit kenapa sih?! istri sama anak gue dirumah! istri gue ngandung tua, lo gak ada respect sama sekali ya?! oh ya anak lo kan gak ada"

Difa mengelus dadanya, menghela nafasnya, "lo tenangin diri lo dulu deh. gue yang nyetir"

ΠΠΠ

"Chelsea!! Lo bertahan ya!!" Tissa mengelus dahi Chelsea. Air matanya terus merembes ketika melihat ceceran darah terus mengalir.

"Tante, mama kenapa?!! Dede gak papa kan?! Thalita takut"

Tissa menggeleng, "gak papa sayang. Kamu tenang ya, jangan nangis"

Ambulan berhenti ketika menjajaki rumah sakit.

"lakukan perawatan darurat segera!!"intruksi seorang dokter kala Chelsea dibawa.

ΠΠΠ

"Hah? apa?! lo serius?!! gue langsung ke jakarta sekarang. Lo tunggu, stay disana. Jagain Thalita!!"

Secepat kilat Bagas tancap gas dari bogor menuju rumah sakit tempat Chelsea dirawat.

"Yaallah..."

ΠΠΠ

Hingga 7 jam perawatan intensif dilakukan. Thalita yang masih memakai baju seragam sekolah terus menangis di pelukan Tissa.

"tante, mama sama Chila gak papa kan??"

Berulang kali pertanyaan itu diajukan Thalita yang bersimpuh dipelukannya.

"Kamu doa ya sayang"

"papa mana tante?"mata anak cantik itu sudah sembab.

"papa lagi dijalan ke sini. kamu tidur dulu ya..."

Thalita menggeleng, "Thalita gak mau kehilangan mereka tan"

Sesosok laki berpostur tubuh tinggi mendatangi mereka.

"keadaan Chelsea gimana Tis? gak papa kan?"

Mereka berdua menoleh, "belum ada tanda-tanda.."

ΠΠΠ

*My Heart Will Go On*

Seorang Dokter berpakaian hijau keluar dari ruangan.

Secepat kilat mereka bertiga mendatanginya. "Bagaimana dok?"

Dokter itu menatap bola mata mereka, sesekali ia menghela nafasnya.

"dok!!! cepat jawab"

Dokter tersebut menghela nafasnya.

"dok!"

"Istri anda dapat diselamatkan, tetapi bayi yang berusia delapan bulan dikandungannya dinyatakan meninggal"

Bagas segera memeluk Thalita yang sangat menangis. "Chila mana pa?!! Chila mana?! Thalita pengen main sama Chila. Thalita sabar nunggu Chila sampai besar biar bisa main sama Thalita. Tapi jangan pergi... Plis jangan pergi"

Bagas tersenyum perih, air matanya merembes memeluk Thalita.

"istri saya mana dok?"

"anda bisa menjenguknya di dalam"

Saat Bagas melangkahkan kaki ke ruangan tersebut ia pasti sudah dapat mengira.

"Maafin aku udah ngerepotin kamu yang lagi di bogor ya, maaf banget"

Bagas tersenyum sambil menghapus air matanya.

"kok nangis? eh ya, anak kita mana sayang? Chila mana? Pasti kiatnya mirip dengan kamu. Wah"celoteh Chelsea.

Bagas terdiam, "Mamaa!!!"

Thalita berlari memeluk sang ibu yang terbaring lemah.

"Thalita sayang, maafin mama belum gantiin baju kamu ya. Maaf banget, oh ya, Chila mana sayang? pasti cantiknya mirip kamu"

Thalita menangis dipelukan sang ibu.

"kamu kok nangis?"

"Chels? Kamu baik-baik aja kan?" Tissa berjalan mendekatinya.

Chelsea tersenyum, "baik kok Tiss. Maafin gue belum bilang terimakasih udah jemput Thalita ya. ehm Chila mana? anak gue mana? pasti baiknya mirip lo deh. hehe"

Tissa berusaha untuk tegar di hadapan sahabatnya.

"kalian kok nangis?"

ΠΠΠ

Dear cintaku, Chilla Terri Saputra

Maaf ....

Maaf sayang...

Maafin mama...

Karena mama, kamu belum sempat melihat dunia ini.

Maaf karena mama yang buat kamu belum sempat melihat papa dan kak Thalita...

Maaf karena mama yang buat kamu enggan untuk kembali ke dunia mama...

Maaf karena mama yang buat kamu terluka...

Mama berharap kamu menjadi kertas putih di surga sana.

Mama berharap kamu bahagia melihat mama, papa, dan kak Thalita dari sana...

Mama janji tidak menangis lagi untuk kamu...

Kamu yang mama harapkan adalah maafkan segala kesalahan mama sewaktu mengandung kamu...

Maafkan mama, mama hanya ingin kamu di surga sana

Selamat tinggal sayang, kami selalu mencintaimu,

Chelsea Terriyanto

Chelsea menyelipkan selembar kertas di atas makam yang bertulis, Chila Terri Saputra.

You are our hearts. Where you at this time, we will always love you. Good bye dear~

TBC

"FanFiction ini dibuat guna mengikuti event menulis dengan tema 'When They Become Parents' yang juga diikuti beberapa penulis lainnya."

Thanks before kak Bita😘💞

Jumat, 03 April 2015

Oneshoot : Let Me Be (I Do)

Let Me Be (I Do)


Author: Alya Nirmala


|||

Sudut bibirnya tertarik hingga mencapai pipi. Sebuah celetukan keluar dari mulutnya yang terdengar sangat kecil sekali. Matanya tak henti memandangi sosok dihadapannya. Sebuah bucket bunga mawar merah ditangan sosok tersebut. Sosok berpostur tubuh tinggi itu menghadap dirinya dengan sebucket mawar. Dengan kaos putih dilapis jaket yang tak berkancing dan celana jeans, pria itu menghadapnya. Jaket pemberian gadis yang tersenyum itu masih ada dipakainya. Walau warna jaket itu warna yang paling tidak disukai si pria, ia masih rela memakainya. Dan sekarang, dua pasang mata itu bertatapan layaknya bola mata mereka lah yang berbicara.

“Untuk ku?”

Pria itu mengangguk cepat. Ia semakin mendekatkan bucket bunga tersebut pada gadis berbola mata cokelat itu. Hingga tangan si gadis menerimanya dan mencium bau bunga tersebut.

“Terimakasih…”

Benar perkiraan si pria. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Ia menutup matanya untuk merasakan bau mawar merah yang ditujukan untuk sang kekasih.

“Bagaimana? Aku sudah romantis bukan?”tanya Bagas, pria pemberi bunga.

Chelsea, si gadis berbola mata cokelat itu diam, tampaknya ia berpikir sejenak. “Belum… Masih 2%! sudah, kamu lanjutkan saja latihan basketnya. Aku masih sibuk dengan tugas menggambarku. Ini tidak akan selesai, jika kamu terus berada di dekatku”

Bagas tersenyum kecil, “Hehe kamu tidak tahan dengan ketampananku ini kan?”langsung dijawab cepat oleh si pria. Gadis itu kembali menimpali, “Bukan. Karena tubuhmu bau. Sangat berbanding terbalik dengan bunga yang kamu berikan padaku. Seharusnya, jika kamu sehabis latihan basket, langsung pulang ke rumah dan bersihkan tubuhmu, lalu memberi bucket bunga mawar ini padaku. Jangan langsung beri… dasar bau masam”

Bagas mengerucutkan bibirnya hingga dua centi. “Baiklah… besok besok aku akan mengikuti perintahmu. Aku pulang dulu ya. Sebenarnya tubuhku memang bau… Huh”

Chelsea tersenyum ketika melihat punggung pria itu mulai menjauhinya. Ia pulang dengan motor ninjanya, meninggalkan gadis cantik itu yang berada di belakang rumahnya.

“Hati-hati. Sekali lagi terimakasih ya….” Sekali gerak, tangan Chelsea melambai ke arah Bagas yang mulai menyalakan mesinnya. Bagas tersenyum melihat gadis itu.

“Kamu tidak bau. Dan kamu benar, aku tidak mampu menyelesaikan tugasku, jika melihat wajahmu…”gumamnya kecil sambil melirik mawar merah tersebut.

|||

“Tidak biasanya sore sore seperti ini kau menyelesaikan tugas menggambarmu. Biasanya pagi jika sudah berada disekolah. Tapi, aku memberimu uplous untuk ini” Marsha datang dengan gumamannya ketika melihat Chelsea sedang bersantai di halaman belakang rumahnya dengan segulung tikar direrumputan dan tangannya yang tengah mencoret diselembar kertas.

Chelsea menoleh melihat wajah sahabatnya, ketika Marsha bertepuk tangan. “Kau ini… seharusnya memberi semangat lagi untukku. Bukannya meledekku seperti itu. Kan lebih lumayan, aku tidak harus mencontek hasil animemu dipagi hari. Hihi”
Marsha cekikikan sejenak. Matanya beralih ke sebelah kanan tubuh Chelsea yang telungkup untuk mengerjakan tugasnya. Sebucket mawar?
 “Mawar? Siapa lagi yang memberimu bunga itu?”

Chelsea memutar bola matanya, “Oh. Bagas”

Marsha tergelak, “Pria kutu buku itu? Apa kau serius?”
“Kau pikir dia tidak bisa romantis seperti Rafli membelikanmu deodorant? Huh”                                 

|||

Chelsea melirik pria disampingnya yang tengah membaca buku sambil berjalan dengannya, “Kamu sangat fokus sekali”
Bagas melirih pelan, “ya emh… besok ujian. Dan aku tidak mau nilaiku turun karena kita berjalan berdua”
“Kita hanya berjalan dari kelas hingga gerbang sekolah, waktu sedikitpun tidak bisa kamu pakai?”
Bagas menggeleng, “ini sangat penting sayang…”

Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya, “ckck. Sifat semalammu itu hanya timbul sekali dalam seumur hidup”

Bagas menautkan kedua alisnya, langkahnya masih tetap menapaki tanah, “berita terpanaskah, jika diyakini seseorang, bahwa ada bidadari yang tinggal dan hidup dibumi? Dia ada…. Apa kamu percaya?”

Chelsea mengerutkan dahinya mendadak serius, “kamu barusan membacanya dibuku itu? Tentu saja aku tidak percaya. Bagaimana denganmu?”

“mungkin aku percaya. Bidadarinya itu ada disampingku”

Dengan cepat Chelsea mengembangkan senyuman dibibirnya dengan lebar. Ia memukul kecil lengan Bagas. “Dasar gombal”

|||

Desc Bagas – Marsha Blaem’ss

Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat salah satu pertanyaan dari Marsha di akun ask.fmnya.

Desc Bagas – Marsha Blaem’ss          
Kutu buku akut, pebasket, tidak romantis, tapi suka membuatku tersenyum—Chelsea Terr

|||

“Bagas, berhenti sebentar ya? Lihat saja hanya dua menit” Chelsea mendongakkan kepalanya supaya Bagas bisa menuruti perkataannya.

“Tidak Chelsea. Korban kecelakaan itu sangat mengenaskan… aku takut, nanti kamu ketakutan. Sudahlah” chelsea menggeleng cepat.
“Hanya dua menit. Ayo kita turun…” Bagas mengerutkan dahinya.

“Tidak… aku tau, kamu mempunya phobia pada darah yang banyak. Kamu fikir aku tidak tau?” seketika itu sudut bibir Chelsea merekah. “Kamu tau darimana?”
“Aku memang bukan tipe romantis pada setiap perempuan, tetapi, aku  tau lebih banyak tentangmu. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini, dan akan ku tunjukkan denganmu, sebuah tempat. Yang sangat indah…”
Mata Chelsea berbinar, “tempat apa itu?”
|||

“Danau?” Chelsea memandang ke arah tempat tersebut. Bagas meliriknya pelan. Tentu saja ia tau, Danau itu tempat yang dipaling dibencinya.
“Kamu benci dengan danau kan?”tebak Bagas. Chelsea mengangguk cepat.
“Karena disini banyak kenangan indahmu dengan Karel, your ex-Heart ?” Tebakan Bagas itu membuatnya sendiri tertawa. Chelsea melirihnya pelan. “Kamu tak marah? Bagaimana bisa kamu tau?”

“Kan sudah aku bilang, aku tau banyak tentangmu. Aku juga mempunyai kenangan burung tentang itu, EMH— sudah lupakan. Kamu ingin tau, aku mengajakmu kesini untuk apa?”anggukan kepala Chelsea langsung dituturkannya.

Bagas menunjukkan ke arah ujung kanan dengan telunjuknya. Bola mata Chelsea mengikuti kemana telunjuk Bagas tuju. Segerombolan anak-anak yang tengah duduk bersila dengan tumpuan buku di tangannya.
“Kamu—?”ia melirik kecil Bagas.

Dengan cepat gadis berambut dark brown itu berlari mendatangi kumpulan anak-anak yang kira-kira berusia 5-11 tahun itu. Bagas tersenyum melihat punggung gadisnya itu dan rambutnya yang berterbangan. Dengan pelan, ia mulai mengikutinya.

“Hai adik adik manis. Kalian sedang apa?” sapa Chelsea dengan rekahan senyuman.
Sebagian anak menoleh lalu menjawab dan sebagian lagi asyik membaca tanpa menoleh sedikitpun pada Chelsea.

“Sedang membacalah kak”
“Hai kakak cantik. Kami sedang membaca buku yang bagus”

Chelsea tertawa mendengar setengah yang menjawab ketus dan setengah lagi menyambutnya dengan baik. “Bukunya sangat asyik ya? Wah…” Dengan pelan, ia mulai mendekati seorang anak yang sedang serius-seriusnya membaca.
“Hai manis. Kamu sedang membaca apa?” perempuan kecil itu menoleh, “Komik kak” kembali lagi, pandangan si anak fokus pada komik yang dibacanya.
Chelsea mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah…”

“Hai… kamu sedang membaca apa?”tanya Chelsea pada anak perempuan berambut hampir sepinggang, berponi dora dan memakai bandana biru.
Anak tersebut hanya diam. Membuat Chelsea semakin penasaran padanya. “Halo…”sapanya kembali.
 
Akhirnya anak kecil itu menoleh, ia hanya menatap aneh wajah Chelsea. Kemudian kembali difokuskannya wajahnya pada buku yang dibacanya.

“Kamu sedang apa cantik?” tiba-tiba anak tersebut mengeluarkan pulpen dan selembar kertas dan mencoret sesuatu dikertas putih itu.

HAI KAKAK MANIS. AKU SEDANG MEMBACA DONGENG…

Chelsea membaca  kertas yang disodorkan padanya. Walaupun tulisannya hampir tidak bisa terbaca oleh Chelsea, tetapi ia masih bisa membacanya sedikit.

“Mengapa kamu membalas perkataanku dengan tulisan?”tanya Chelsea dengan sopan.

Pertanyaan Chelsea membuat anak perempuan itu memeragakan tangannya layaknya suara, lalu ia menggelengkan kepalanya.

“Dia salah satu anak panti asuhan yang berbeda dengan yang lainnya disini. Dia tidak bisa berbicara, tetapi ia sangat cerdas…”jelas Bagas yang tiba-tiba datang.
Chelsea menoleh, mendengar perkataan Bagas membuat hatinya tersentuh. “Maaf. Bukan maksudku untuk begitu….”ia menundukkan kepalanya.


Bagas tersenyum melihat anak perempuan itu, “tetapi Chira anak yang cerdas, dan sangat cantik”puji Bagas. Chelsea mendongak, bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Bahagia dengan apa yang ada lebih baik. Syukuri apa yang ada pada dirimu, dan apa yang telah dianugerahkan tuhan padamu ! 


When They Become Parents : My Everthing

When They Become Parents : My Everything

.
.

.

Author : Alya Nirmala J.

.
.
.

Jakarta, 20 Juli pukul 05.00
“Good morning cinta” suara bisikan halus terdengar lembut ditelinga Chelsea. Sedikit ia terngiang, matanya terbuka dan irisnya menatap sosok lelaki yang terbataskan oleh seorang balita mungil yang tengah terlelap dalam bunga tidurnya.

Matanya berkedip sebelah, “Good morning too”balasnya pada Bagas, kekasih hidupnya itu.

Bagas tersenyum,  “Udah jam 05. Kamu gak siap siap nih?”Tanyanya.

Chelsea mengangguk, “Iya. Aku mau mandi nih, eh bangunin Talitha gak ya?”imbuh Chelsea.

“Lithaa, bangun sayang! Boboiboy udah tayang, kamu gak mau nonton nih?”ledek Bagas sambil menggoyangkan pipi anak kesayangannya itu.

Chelsea tertawa, “Jangan dibangunin pa. masih jam 5, biarin aja Litha tidur dulu. Ngorok time dia”
Ucapnya sambil barjalan gontai menuju kamar mandi dengan handuk ditangan kirinya.

“Biarin aja ma. Itung itung Litha bantuin papa nyuci mobil wkwk. Litha, boboiboy udah tayang di tv, kamu gak mau nonton nih?”jahil Bagas.

Talitha, balita mungil itu terperangah, “Boboiboy tayangnya siang papa!!!”teriaknya sambil menangis kecil.

Bagas tertawa lebar, “Iya iya, tidur lagi deh. Jangan nangis ya sayang. Kamu cantik banget sih”

Chelsea terpekik mendengar teriakan Talitha Rahman, anak chubby yang sering dipanggil  Litha itu.

“dibilangin juga apa…”

---

“Mama, kaus kaki Litha mana?”teriak perempuan kecil itu dari lantai atas.

Chelsea yang sedang mengoleskan selai ke roti langsung menjawab, “Tanya sama papa aja Tha. Semalam belanjaannya papa yang letakin”
__

“Papa, kata mama kaus kaki Talitha sama papa ya?”Tanya Talitha pada sang ayah.

 “gak ada tuh” Bagas menggeleng dengan kedua tangannya dibelakang.

“Ah, papa boong. Itu ditangan papa apa?”ketus anaknya pada pak Bagas itu.

Bagas tertawa kecil, “Cium papa dulu dong”ujarnya.
Talitha menggeleng cepat, “gak ah, papa bau. Belum mandi, suka jahilin Litha, suka ngerjain Litha sampe nangis. Litha gak mau”tutur si anak jujur.

Bagas mengerucutkan bibirnya, “Litha bandel sih. Cepetan, cium pipi papa aja. Kanan kiri…”rayunya.

Talitha menggeleng, “Litha bilangin mama aja nih” Gadis kecil itu berjalan berlenggak lenggok meninggalkan sang ayah.

“Mama! Papa bandel banget sama Litha. Gak mau ngasih kaus kakinya!”teriak Talitha dari lantai atas kepada sang ibu yang ada dibawah.

Chelsea geleng geleng kepala melihat tingkah anak dan suaminya itu, “papa, kamu jangan jail pa”sahut Chelsea.

“tuh kan, dibilang mama. Cepet kasih sama Litha”paksa balita chubby itu.

Dengan gemas Bagas langsung menggendongnya menuruni tangga menuju tempat sang istri membuat sarapan.

“Papa!! Lepas!!”tukas anak itu sambil melepaskan gendongannya pada sang ayah.

Bagas menurunkan anak kesayangannya itu, “Nih. Papa kan baik, ganteng, cakep, cetar, ketjeh, gak sombong , jadi papa kasih ke kamu deh”tutur Bagas dengan PD maksimalnya.

Chelsea tertawa geli mendengar kePD-an suaminya itu, “Papa PD gila Tha”timpalnya.

Talitha ikut tertawa, “Papa lagi gak sakit kan?”ledeknya.

Bagas membulatkan matanya besar. Dengan cepat ia menggelitiki Talitha dengan gemas.

Chelsea terpekik senang melihat tingkah anak sekaligus suaminya itu.

“Berita satu, akhir akhir ini sering terjadi kasus penculikan terhadap anak usia empat tahun ke atas. Di daerah *xx* seorang ibu telah mengadukan kasus hilangnya sang anak saat berada di mall. Tak hanya di mall dan kawasan bebas orang, tempat lazim penculikan antaranya sekolah. Seperti salah satu ibu korban yang—“

Mata Chelsea beralih ke televisi yang kini menayangkan seputar berita tentang penculikan tersebut.

“Mama jadi takut deh”ucap Chelsea.

Bagas mengangguk, “kamu jangan suka kemana mana yah sayang. Kalo ada yang ajak kamu main atau pergi, jangan mau. Kalo belum dijemput, tunggu mama atau papa ya!”peringat Bagas.

Talitha mengangguk, “kalo pun Litha diculik berarti Litha itu chubby”pamernya sambil menggembungkan kedua pipinya.

“Idihh” Bagas dan Chelsea tertawa geli melihat kePD-an Talitha, yang jelas jelas turun dari ayahnya itu (read: Bagas) :d

__

“Mama, Talitha berangkat sekolah ya” Talitha mencium gemas pipi Chelsea sambil memainkan rambut badaynya.

Chelsea mengangguk sambil tersenyum, “Dadahh sayang. Kamu belajar yang rajin ya!”matanya berkedip sebelah.

Dia mengangguk sambil masuk ke dalam mobil sang ayah.

“Ma, aku pergi ya!” Seketika Bagas datang dengan tangannya yang masih sibuk dengan dasinya. Ia mengecup kening istrinya.

Chelsea mengangguk, “Hati hati ya Gas” Ia mencium punggung tangan Bagas.

__

‘Ma, hari ini kamu yang jemput Litha ya. Papa ada meeting mendadak’

Chelsea manggut manggut ketika mendapat pesan dari Bagas, suaminya itu.
__

“Kayaknya Talitha belum dijemput deh bu, tapi dia udah bawa tasnya. Katanya mau nunggu papanya”tutur sosok perempuan yang menjadi guru di TK Talitha.

“Loh? Kok ibu kasih izin?” Chelsea menjadi sedikit panik.

“Tadi para guru sedang rapat bu. Dan itu tadi temennya yang ngasih tau”ujar Marsha, guru tsb.

Chelsea mendatangi tempat tempat diTK tsb yang sering dikunjungi Litha. Suasana yang sepi dan hanya tinggal beberapa murid lagi yang belum dijemput, membuat Chelsea semakin panik.

“Ibu nyari siapa ya? Kok kayak kebingungan begitu?”
Tiba tiba, segerombolan ibu ibu mendatangi Chelsea yang tengah panic.

“Nyari anak saya bu. Talitha…”tutur Chelsea pelan.

“Talitha? Sepertinya anak saya kenal deh”

“Ada apa Chels?” Seorang perempuan muda mendatanginya juga.

“Talitha… gue gak tau dia kemana. Tapi gue yakin dia disekitar sini…”jawab Chelsea.

Tissa—salah seorang guru sekaligus karib Chelsea—mengangguk.

“Tenang. Talitha gak kemana mana kok. Tadi gue lihat dia” Tissa merogoh ponselnya dan menghubungi seseorang.

Tak lama kemudian, dia berseru pelan, “Talitha di dalam pos satpam. Dia ketakutan nunggu disini tadi enggak ada guru. Jadi yaudah. Kesana yuk!” ajak Tissa sambil menarik tangan Chelsea.

Chelsea menghela nafas lega.

__

Tadi itu hampir loh pa… Kamu sih, bikin mama panik deh”ketus Chelsea semberawutan.

Bagas melirik ke arah Talitha, “Jangan suka begitu Tha. Kamu tunggu aja di kelas. Jangan sampe bikin mama panik terus nangis Bombay ke papa, wkwk”ledek Bagas.
Talitha tertawa kecil.

Chelsea memukul pelan tangan Bagas, “Iss, PD gila”

__

Satnight, 19.30 WIB

“Talitha, kamu udah siap?”teriak Bagas dari kamar mereka ke kamar si anak yang berada tak jauh dari kamarnya.

Talitha tak menyahut, dia asik dengan make up colongan dari meja rias mamanya.

“Talithaaa, kamu liat lipstick mama gak?” Celingak celinguk Chelsea bergontai ke kamar sang anak.

“Yaampun sayang…” Chelsea menggeleng gelengkan kepalanya. Dengan cepat ia mencopot lipstick sekaligus mascara yang tengah dipakai sang anak secara bersamaan.

“Kamu mau ke rumah nenek apa mau kondangan? Waduh berantakan banget Talitha! Kamu jail deh…”dumel Chelsea pada sang anak.
Talitha nyengir kuda. “Talitha gak sengaja mama…” Dengan manja dia memeluk Chelsea.

Chelsea melunak sedikit, “yaudah cepat bersihin muka kamu yang kayak badut sana. Minta bersihin sama papa..” Talitha bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan sang ibu yang sibuk merapikan alat riasnya yang telah dipakainya secara abal-abalan.
__

“Siapa tadi yang ngomel ngomel karena alat riasnya kamu rusakin Thaa? Siapa?”ledek Bagas yang sedang focus pada jalanan sembari melihat ke samping dan belakangnya.

“Yah mamalah. Siapa lagi…”tawa Talitha sambil memainkan rambut sang ibu.

Chelsea hanya diam. Tidak terlalu merespon ledekan Bagas dan tawaan Talitha.

“Mama kalo lagi diem dingin gitu kelihatannya cantik banget kan? Kayak Barbie”imbuh Bagas dengan nada isengnya pada Talitha.
Talitha mengangguk, “Cantik banget. Apalagi anaknya! Widihhh”

Chelsea tertawa kecil melihat kePD-an Talitha. “bapak… anak…  luar biasa PDnyaa, wkwk”

__

Jakarta, 21 Juli

“Beneran nih Gas, tanggal 24 emang ada acara dirumah mama? Cuma mau memperingati anniv pernikahan kita?”Tanya Chelsea membuka topik pembicaraan sambil membolak balik majalah stylishnya.

Bagas yang sedang fokus pada korannya langsung mengangguk. “emang kenapa Chels? Pastilah…”jawabnya speechless.

Chelsea menggeleng, “beneran nih?” Ia menggaruk-garuk tekuknya yang tak gatal.

Bagas mengerutkan keningnya, “Memangnya kenapa sih? Oh, aku tau..” Bagas menarik sudut bibirnya.

“Apa coba?”
“Bajunya kan? Dress kamu udah kekecilan, wkwk”

Chelsea cengengesan, “kamu kok tau sih?”

Bagas tertawa kecil, “kemarin kamu kan udah ngadu ke aku. Yaudah lusa aja kita beli yah!”

Chelsea mengangguk sambil mengedipkan matanya sebelah.

Hening.
Satu…
Dua…
Tiga…

“Mamaaa! Papa! Jdarrrr” Tiba  tiba, perempuan cilik itu datang dengan balon yang dicucuk memakai jarum.

Keduanya langsung terperangah, sedikit salah tingkah.

“Kayaknya kamu tadi udah molor deh. Yaudah ayo mama bacain dongeng!” Dengan cepat Chelsea membopong anak manisnya itu.

“Ganggu aja ahhh Talithaaaa!!”teriak Bagas dalam hati.

__


“Mama, mama tau Keyla gak?” Talitha bersenandung ria sambil berbincang dengan sang ibu seusai pulang sekolah.

Chelsea mengangguk, “iya. Mama tau. memangnya kenapa?”

“Dia hampir diculik loh waktu itu.. talitha aja yang denger merinding. Tapi untungnya selamat. Penculiknya udah ditangkep”tutur Talitha bersemangat.

Chelsea sedikit tersentak, “Kok bisa Tha? Ih, ngeri banget sayang.. kamu jangan kemana mana kalo belum dijemput sama papa atau mama ya…”peringat Chelsea sambil memeluk anaknya dengan erat.

Talitha mengangguk, “pasti kok mam! “

__


22 Juli, 16.00

Keluarga kecil itu kini berada di mall terkenal di kota ini. Lebih tepatnya, mereka tengah memilih baju baju sepadan untuk acara 24 Juli lusa. Acara peringatan Ulang tahun pernikahan Chelsea Bagas ke Lima tahun.

“Gak mau. Talitha Cuma mau baju yang itu. Baju pilihan mama jelek ih”komentar Talitha sambil memasang raut wajah tidak sukanya.

Chelsea berusaha meyakinkan Talitha. “Litha, baju itu cantik sih cantik, tapi kekecilan buat kamu. Udah perut kamu buncit ih… agak besaran dikit kaya pilihan mama”tutur Chelsea.

“Engga ih. Talitha langsing, slim. Gak kaya mama, bajunya pada kekecilan semua…”

“Enggak ya. Pokonya baju kamu yang ini aja ya”

“Enggak! Talitha gak mau!”
“Talitha mau cantik pas acara itu kan? Makanya ikut saran mama, sayang”

“Enggak ah. Itu jelek. Is apaan dih…”Talitha melipat kedua tangannya di dada.

Bagas tertawa melihat pertengkaran kecil antara Chelsea dan Talitha. Keduanya yang memang dan sangat disayangnya.
“Udah deh, beli dua duanya aja kok ribet sih”lerainya.

“Sayang loh Pa. lihat deh, kecil banget sama Talitah, kelihatan peruthyaa”argumen Chelsea.

“Gak mau!!!” Talitha melempar baju tersebut. Chelsea menghela nafas beratnya.

“Yaudah, dua duanya aja. Mama ngalah…” Chelsea mengutip baju yang dilempar Talitha tadi dan mengambil baju pilihan Talitha ke dalam tas belanjaan.

__

“Rasa chocolate!!”rengek Talitha menarik narik baju Chelsea.

“kalo cokelat, misalnya tumpah ke baju kamu gimana? Bagusan rasa vanilla atau stroberry aja deh”usul Chelsea.

“pake tissue loh ma. Mama percaya deh sama Talitha. Suer” Talitha menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf V.

“Mama gak yakin”
“yah diyakin yakinin dong ma”
Bagas geleng geleng kepala, “beli dua duanya lagi deh~ berantem mulu”

__

“Papa plis… mama… sekali ini doang”pinta Talitha dengan wajah memelas ketika melihat arena bermain di mall ini.

“ini udah jam berapa Litha? Udah malem loh”

“Masih jam 9 mama… ayo kita main main dulu”ajaknya.

Bagas menatap chelsea yang sudah menguap, “yaudah. Cuma 20 menit ya..”ucap Chelsea.

Talitha berseru riang. Ia mulai menjajaki arena bermain ini. Naik komidi putar, mandi bola, dan waktu sedikitpun tak disia-siakan olehnya.

Chelsea terduduk lemas, “kemu capek ya?”Tanya Bagas. Chelsea menggeleng.

“Kita lihat Talitha yuk!”
“udah kamu duduk aja dulu..”
Chelsea menggeleng.

__

Chelsea tersenyum melihat si anak yang sudah terlelap nyenyak dikasur tidurnya.

“ternyata makin besar, Talitha itu makin bawel ya. Mirip kamu Chels…”bisik Bagas.

Chelsea nyengir, “dan ternyata, makin besar, Talitha itu makin sering PD gila. Dan itu bener bener sifat turunan dari kamu …”

Bagas tertawa kecil.

__

“Cincin nikah kemaren masih kamu simpan kan Chels?”Tanya Bagas yang masih sibuk dengan jas kerjanya.

“Ya masih dong” Chelsea membuka kotak dimeja riasnya. Sebuah cincin putih yang dilapisi permata kecil.

“Tanggal 24-nya kita pakai ya sayang! Jaga baik baik. Aku berangkat kerja dulu. Jagain juga Talitha, dia masih ngorok. Dahhh” Bagas mengecup kening sang istri dengan lembut.

Chelsea mengangguk, “siap boss!”

__

Talitha  terdiam melihat barang barang mamanya yang ada dimeja rias.

“Kalo Talitha mainin lagi alat kosmetik mama lagi, pasti mama langsung ngambek. Jadi Talitha main apa? Talitha bosan tau” Dia berpikir-pikir kecil.

“Oh! Talitha  main putri putrian aja kali ya..” Dengan cepat, dia mengobrak-abrik bajunya di lemari.

Sekali pakai, dia seperti putri sungguhan. Cantiknya terwarisi dari setiap lekuk sang ibu.

“Biasanya putri itu pakai mahkota atau perhiasan kan?” Talitha memilah milah sesuatu dimeja rias sang ibu.

“Kotaknya cantik banget yah” Dengan jahil, dia membuka kotak yang berisi sesuatu yang berharga ditanggal 24 nanti.


“Cincinnya cantik banget!!” Talitha memakai cincin tersebut yang kebesaran baginya.

“walaupun kebesaran tapi cocok buat Talitha kan?” Dia berputar putar layaknya putrid sungguhan.
__
Chelsea terbelalak melihat Talitha yang sedang tertidur diatas lantai memakai gaun yang memang dipakai untuk hari H- nanti.

“Talitha!” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sekali angkat, dia berhasil membopong Talitha ke atas tempat tidurnya.

Ia mencopot baju Talitha lalu menggantikannya kembali dengan yang memang seharusnya Talitha pakai.

“ckck”
__

Night, 23 Juli 20.00

“Semuanya udah kamu siapin Chels?”

Chelsea mengangguk sambil menghairdryer rambutnya yang basah.

“Cincin? Baju?”

Bagas mengecek kotak yang biasa Chelsea simpan cincinnya.

“Udah kamu pindahin ya tempatnya? Gak ada tuh cincinnya”tutur Bagas.

Mata chelsea membulat, “Gak kok. Aku letakin disitu” Chelsea kembali memeriksa kotak tersebut.

“loh kok gak ada?”

Mata Bagas memicing.

“Tadi ada loh Gas. Tadi pagi gak ada aku pegang pegang. Tetap dikotak…”

Dengan panic ia memeriksa seluruh bagian dimeja riasnya.

“itu untuk besok loh Chels… bisa mati kita dibikin mama…”tukas Bagas.

Chelsea terdiam sejenak, “Coba Tanya Talitha…”

Bagas berlari menuju Dapur. Talitha yang sedang bermain piring-piringan.

“Talitha, kamu lihat cincin mama gak?”

Anak chubby itu menggeleng.

“serius loh sayang. Besok mau dipakai…”

Dia menoleh, “beneran loh papa. Papa mau pesan apa? Ada bubur ayam, sate kerang. Apa aja ada…”tutur Talitha acuh.

Bagas menepuk jidadnya.

__
‘Mama, maafin Bagas. Cincinnya hilang ntah kemana…’ketik Bagas pada ponselnya


Chelsea menunduk. “serius aku tadi letakin disitu Gas”

“Kalo kamu letakin, gak mungkin hilang Chelsea!”

“Kamu kok marah marah gitu sih! Tadi itu beneran aku letakin disitu. Gak ada aku pegang  pegang”teriak Chelsea.

“Pake logika Chels, gak mungkin kan Hilang kalau gak ada dipegang pegang…”ujar Bagas tak mau kalah.

Chelsea menjatuhkan semua barang barang yang ada meja riasnya.

“Tapi aku beneran gak ada megang! Gak mungkin tuyul kan?!”

“Terserah kamu deh… udah mama yang nyiapin itu semua, kita tinggal datang dan hanya bawa cincinnya susah banget!” Bagas menatap muak.

“Kamu kok childish banget sih! Dicari dong! Ayo bantuin aku nyari. Jangan ngomel mulu!!”tukas Chelsea. Air matanya mulai turun pelan dipipinya.


Talitha terdiam mendengar pertengkaran hebat kedua orang tuanya. Chelsea dan Bagas mengira dia sudah benaran tidur, caranya agar Talitha tidak ketahuan mendengar pertengkaran kecil ayah ibunya.

“Ini semua salah Talitha!!!”teriak Talitha dalam hatinya.

“Yang childish siapa sih? Gak ada gunanya dicari lagi Chels. Besok loh Hari H-nya. Dan kamu ingat kan, perjanjian waktu nikah dulu?”

Chelsea membiarkan air matanya dengan deras mengalir. “kalau cincin itu hilang, maka cinta itu ikut hilang?”

Bagas mengangguk.

“Gas…”

Bagas membuang mukanya, “udahlah, aku mau tidur. Capek kerja”
__

Talitha merutuk dirinya dalam hati. “Gara gara Talitha, mama sama papa jadi berantem! Iss Talitha kok jadi pikun gini ya?! Semalam Talitha  taroh dimana ya?!”

Talitha melirik kecil sang ibu yang matanya sedikit memerah.

“Mama, mama sakit?”tanyanya.

Chelsea menggeleng, “Kamu pake baju cepat ya sayang…” talitha mengangguk  pelan.

“Pa, boleh gak, Talitha pergi sama mang Usup aja? Mama sama papa duluan ke rumah nenek”tutur Talitha pelan.

Bagas mengerutkan keningnya, “ngapain kamu sama mang Usup? Mang Usup naik ojek loh. Lagian sama mama papa apa susahnya sih?”

Talitha menunduk. “Pokoknya Talitha mau sama Mang Usup! Titik!”teriaknya.

Bagas geleng geleng kepala. “terserah”
__

Talitha menyatukan keduanya tangannya. “Plis mang. Ini semua salah Talitha… plis mamang bantuin Talitha nyari cincin mama…”pintanya pelan.

Mang Usup—satpam terpilih— tidak tega melihat anak majikannya. “Memangnya non letakin dimana? Kok bisa hilang? Acarnya setengah jam lagi loh”tuturnya.

“Kemaren Talita pakai. Talitha kemaren pengen jadi putri. Beneran deh.. mungkin dibawah tempat tidur, karena kemaren Talitha ketiduran juga dilantai”imbuhnya.

Mang Usup mengangguk, “Mamang lihat ya. Kamu ambilin senter gih”

Talitha mengangguk.
__

“Talitha memang pantes kena marah sama mama!!”adu Talitha dengan kepala tertunduk.

Chelsea menatap sang anak. “Udahlah, gak pake cincin juga gak papa kok sayang…”ujar Chelsea.

Talitha menggeleng, “Maafin Talitha ya ma…” Dia memeluk sang ibu dengan rasa menyesal.

Saat dipeluk Talitha, Chelsea merasa ada yang janggal.

“Baju kamu kayak ada keras kerasnya Tha” Dia meraba baju Talitha.

“Ada yang nyangkut Thaa!”

Chelsea melihatnya dengan teliti.

“Cincin!!!”

Talitha membelalak dengan senang, “Mama serius?”

Chelsea mengambil sesuatu yang nyangkut dijaring jaring baju Talitha.

“Aaaa! Ini cincinnya!”teriak Chelsea.

Talitha segera memeluk Chelsea kembali, “Aduh, Talitha senang banget. Janji deh, Talitha gak main main lagi dimeja rias mama. Talitha janji! Tapi mama sama papa jangan berantem lagi ya?”

Chelsea mengangguk sambil mengecup kening sang anak.
__


“Talitha janji deh sama papa. Talitha gak bakal iseng lagi main dimeja rias mama. Papa mau maafin Talitha?”Tanya Talitha.

Bagas diam. Dia terlihat berpikir.

“Gak mau ah. Papa udah keburu kena marah oma duluan…”

Talitha mengerucutkan bibirnya, “pantesan mama bilang, papa itu gak pemaaf orangnya. Gak enak!”tukasnya.

Bagas memicingkan matanya. Menatap tajam sang anak.

Talitha yang ditatap begitu sedikit ketakutan.
.
.
.

“Acaranya udah kelar, dan cincinnya udah ketemu. Apasih yang enggak buat Talitha, anak papa tersayang?”

Talitha menghela nafas lega dan  tersenyum manis, “Talitha udah papa maafin. Mama?”

Chelsea diam ditempat.

Raut wajah Bagas berubah, “Kalo mama ehm—“
.
.
.
.
Bagas jalan mendekati Chelsea, istri yang berusaha membuat yang terbaik baginya.
Perempuan yang sudah dimarahinya semalam.
Perempuan yang sudah menangis karena ulahnya semalam.
Perempuan yang tidak salah apa-apa saat dia menuduh semalam.
Perempuan yang berusaha menjadi yang terbaik baginya.
Perempuan yang selalu ada untuknya.
Perempuan yang selalu sabar menghadapinya.
 Perempuan yang SUDAH menemaninya, SELALU menemaninya, dan AKAN SELALU menemaninya melewati dunia hingga akhir hayatnya.

“Would you forgive me dear?”Tanya Bagas.

Chelsea yang tadinya menunduk langsung menatapnya.

“Yes I would  and will always forgive you”balas Chelsea pelan.

CUP~

Bagas mengecup puncak kepala Chelsea.

“Happy Anniversary Dear! I will always love you till death do us part!”


Chelsea tersenyum. “Me too”


Talitha tertawa geli melihat tingkah ayah ibunya, “CIE… Talitha gak dipeluk”

Dengan cepat Bagas menggendong anak semata wayangnya itu. “I love you. Chelsea and you, Talitha”
___ END

                                                                                                                            


Oneshoot : Just Wait Me

Oneshoot :  Just Wait Me

Author : Alya Nirmala J.
.
.
.

__

“Chelsea! Ke kelas XI. Ipa 2 yuk!” Jesslyn dan Sheryl berada tepat dihadapan seorang cewek yang tengah berearphone ria.

“Chelsea!”panggil ulang Sheryl.

Chelsea melepaskan satu earphone ditelinga kirinya. “Apa?”

Jesslyn dan Sheryl berpandangan. Dengan sekali tarik, Jesslyn berhasil membuka pucuk earphone yang dilekatkan ke ponsel Chelsea—cewek tadi—

Dan alhasil, sama sekali tidak ada lagu yang terdengar karena memang cewek tersebut tidak memasang lagu, hanya untuk mengelabui kedua sahabatnya itu.

Chelsea mengerucutkan bibirnya ke depan, “Kalian juga tau kan, kenapa gue pura pura gak denger apa yang kalian bilang?”tuturnya pelan.

Jesslyn dan Sheryl kembali berpandangan, “Oh, karena itu adalah kelas kak Bagas dan kak Bagas ngephp-in lo ya?”ledek Sheryl, Jesslyn mengangguk menyetujui sambil tertawa.

Chelsea membulatkan matanya, menusuk iris mata keduanya.

“Siapa yang php-in hayoo?” Tiba-tiba seorang cowok yang tadinya di depan pintu menyelinap masuk ke dalam kelas ketiga cewek sejoli ini.

“Eng—“ Chelsea tertunduk gementaran.

“Gak ada kok kak. Hehe” Jesslyn mengedipkan matanya pada Sheryl.

“Kakak gak nguping kan?”Tanya Chelsea speechless.

Bagas—cowok di depan kelas tadi— menggeleng, “gak nguping, tapi kedengaran. Eh— sekretaris kelas kalian mana yah?”

NJLEB

Mampus gue batin Chelsea skakmat.

__

Apa yang lo lakuin, kalo ada cowok yang php-in lo?—Tissa Biani

Chelsea  terdiam melihat question dari salah satu sejolinya itu.

Pinter banget lo ngeledek Tiss  pikir Chelsea
Apa yang lo lakuin, kalo ada cowok yang php-in lo?—Tissa Biani
Gue yah diam aja. Mungkin dia bukan kenanya ke gue FIXX itu sakitttt—Agatha Chelsea

Tiba tiba muncul ask dari Tissa lagi.

Lo yang geer apa dia yang emang php :D ?—Tissa Biani
Kamfrett, yg namanya Php gak ada kalo gak ada yg kegeeran, yang kegeeran juga gak bakal ada kalo gak ada yg ngasih harapan—Agatha Chelsea

__

“Yang php itu gak bakal ada kalo gak ada yang keGR-an. Yang keGR-an itu juga gak bakal ada kalo gak ada yg ngasih harapan. Dan jelas banget dia nyindir lo gas, haha” Difa membacakan apa yang di dapatnya dari Ask.fm Chelsea, cewek yang merasa kalau si Bagas adalah seorang php.

Bagas tertawa kecil, “tunggu aja kali… gak sabaran banget sih”

__

From : kak Bagas
Malam…

Chelsea menghela nafasnya ketika mendapat pesan dari kakak kelasnya itu.

Malam juga kak—Chelsea


Km udah makan?—Bagas

UDAH—Chelsea
Bener—Bagas
Iya—Chelsea
Oh—Bagas
Kak, Salsha Adriani itu siapa kakak?—Chelsea
Temen—Bagas
Ah masa? Cie, punya pcr—Chelsea
Enggak ah—Bagas
Serius?—Chelsea
Km maunya gimana? Hihi—Bagas
Oh, kak, tdr dulu yah. Bye—Chelsea
Dahh gnite—Bagas

Kak, Salsha Adriani itu siapa kakak?— Temen –Ah masa? Cie, punya pcr— Enggak ah— Serius?— Km maunya gimana? Hihi—

Sakitt ;3

__

“Dif, lo gak enak banget sih. Ah udah ah”tukas Chelsea.

Difa yang sedang berdiri di depan kelas langsung mengangguk, “Bagas gak ngasih tau apa apa ke gue tentang Salsha loh Chels”tuturnya.

Chelsea membulatkan mulutnya, “Oh”

“mungkin kalik, itu pacarnya. Tapi gak tau juga”ucap Difa pelan.

Chelsea membelalakkan matanya, “Okedehhh. Thanks ya”
__

“Kamu kok baru jam segini pulang?” Seorang cowok jambul atas membuka percakapannya dengan Chelsea yang tengah menunggu hujan reda.

Chelsea menoleh, “tadi ada urusan kak. Ngelengketin hasil karya anak anak ke mading”ujar Chelsea speechless.

“Oh, kayaknya ini bakal lama deh hujannya”terka Bagas.

“Gak papa. Aku nunggu sampe reda aja deh”ucapnya sambil membuang muka.
“Oh, kebetulan aku bawa mob—

“Kak duluan yah, dah” tanpa aba-aba, ditengah rintikan hujan tersebut, Chelsea berjalan cepat menuju gerbang sekolah dan langsung masuk ke dalam sebuah taxi.

___

Salsha Adriani
 Chelsea sedang mencari diakun twitternya Bagas.

“Cie yang main mention mentionan…” Seulas senyuman direkahkan seorang Chelsea ketika melihat keduanya tengah saling reply.

Dengan cepat Chelsea melempar  ponselnya ke tempat tidurnya.

“CIE…”
__

“buset dah, ide gila lo! Nyuruh gue bikin akun twitter fake Salsha, senior  sekaligus mantan lo dulu”ketus Difa sambil melempar bantal pada Bagas.

“Sini ntar gue yang pura pura ngereply ke gue balik. Jadi Chelsea mikirnya gue beneran mention mentionan sama Salsha Haha”tawa Bagas.

“gak nyangka gue, ternyata lo beneran php ya. Pantesan Chelsea bilang lo tersangka php” Difa geleng geleng kepala.

“lo gak tau sebenarnya sih” Bagas menatap sebuah foto di dekat buvet atas meja. Foto seorang cewek…

__

H-10

“sepuluh hari lagi “tutur Bagas sambil menatap kalender di depannya.

“sepuluh hari lagi lo anniv failed ke satu tahun sama Salsha. Dan fix kalo lo bilang sama Chelsea, Chelsea beneran benci sama elo”bisik Difa.
__

“Pulang bareng yuk Chels…  “

Chelsea menggelengkan kepalanya. “aku lagi sibuk kak. Kontes remaja sekolah tinggal bentar lagi, aku diunjuk jadi salah satu modelnya”ungkap Chelsea.

Bagas mengangguk, “besok bisa gak?”

Chelsea menggeleng lagi, “gak bisa. Masih sibuk. Besok gladi resiknya”

Bagas berpikir, “lusa bisa dong?”

“pas kontesnya yah 100% gak bisa kak. Maaf ya. Aku duluan, bye”

Bagas terdiam, “Ok, never mind”

___

“apa bener Chelsea nganggap gue php?”Tanya Bagas pada Difa yang mondar mandir di depannya.

Difa mengangkat bahu, “menurut pendapat gue 85% iya, 15% enggak. Ya udah pasti, iya”imbuh Difa.

“menurut lo, cara buat dia gak marah lagi gimana?”Tanya Bagas.

“lo harus ngasih sesuatu ke dia. Terus jelasin, lo sebenarnya enggak php-in dia”jawab Difa sekenanya.

“sesuatu? Apa yang Chelsea suka gitu?”

“Yaiyalah. Nanti gue bantu. Gue bakal nanya ke Jesslyn dan Sheryl”
Bagas mengangguk.

__

Sing A Song
“Nyanyi gitu? Kalo nyanyi mah gue bisa”pekik Bagas mengedipkan matanya.
“lagu bahasa Korea  broh”ucap Difa membaca BM dari Sheryl.

MAMPUS

“lagu liriknya bahasa korea?mati gue”tukas Bagas.
Difa mengangguk, “yah lo harus berusaha, haha. Kalo lo gak mau dicap php ”

___

“penyanyi korea yang agak keren gitu siapa?”
“semua keren keren keles. Yang boyband apa  solo?”
“yang girlband -_- “
“Serius lo?”
“yang penting gak susah, ribet amat sih”
“yang genrenya romantis apa yang sad?”
“yang horror”
“mana ada”
“kalo mau nembak cewek gimana?”
“tergantung. Agak sad dulu biar dia nerima”
“nah kalo itu elo. Kalo gue beda”
“terserah lo deh”
 “Capek”

__

H-5
“Gue nyerah!”
___

“Chels, hari jumat kamu ada waktu gak?”Tanya Bagas.
“enggak ada kak. Lagi sibuk”
“yah, kalo sabtu pliss?”
“gak bisa kak”
“kayaknya kamu gak bisa terus deh”
“namanya aku sibuk”
“emang kamu sibuk tiap hari?”
Chelsea diam.
“yaudah deh, gak papa”ucap Bagas.

__

Sabtu, 24 Oktober
19.40

Kak Bagas nembak orang Chels!!!
Chelsea mengerutkan keningnya ketika melihat pesan dari Jesslyn.

Nembak? Maksudnya? Nembak nyatain cinta apa gimana?—Chelsea

Nembak pokoknya. Lo ke sekolah sekarang! Buktiin kalo lo gak suka sama dia lagi. Cewek itu belum jawab dan dia nunggu lo, dia mau liat, kalo lo beneran gak suka sama calon cowoknya—Jesslyn

JLEB

‘tesh’ seurai air mata berlinang dipipinya.

Lo ngaco ah! Serius dikit—Chelsea

Serius loh Chels… cepetan, ke sekolah! Semuanya tergantung elo—Jesslyn

Kok jadi ke gue?—Chelsea

Kasihan banget kak Bagas Chels. Cepetan!—Jesslyn

Kok iss!!! Yaudah bentar—Chelsea

Dengan cepat Chelsea menarik tas kecilnya dan langsung melesat ke sekolah yang tak jauh dari rumahnya.

__

“sepi kok…”
Kalian dimana—Chelsea

Lo jalan lagi, ke dekt lapangan--Jesslyn

Gue udh dilapangan—Chelsea

Tiba-tiba sosok lelaki tertutup jubah hitam datang menghampirinya.
Dan saat itu pula, semua lampu yang tadinya mati, menyala dengan bervarian warna.

“Eng—kamu siapa?”Tanya Chelsea.

“Jesslyn mana?” Chelsea mulai ketakutan.

Seketika, orang tertutup jubah tersebut mengeluarkan sesuatu dari balik badannya.

Sebuah pisau yang tajam.

Chelsea terpekik ketakutan, “plis jangan bunuh gue. Gue belum mau mati…” Chelsea melirik kea rah sekitar. Tidak ada orang!

Sosok tertutupi jubah hitam tersebut menjatuhkan pisau tersebut dan sebuah kertas putih yang dituliskan dengan tinta merah darah ke atas tanah dekat Chelsea.

IKUTI DARAH YANG TERCECER, JIKA TIDAK KAMU AKAN MATI MALAM INI

Chelsea berteriak ketika lampu lampu yang tadinya menyala kembali mati dengan serentak.

“Gue gak tahan lagi. Tuhan tolong saya! Kalo kalian mau ngerjain gue, bukan gini caranya! Ulangtahun gue masih lama!” dengan gelelapan Chelsea mulai menapaki jalan yang tercecer darah.

Sampai ke dekat kelas XI.Ipa 1.

“sampaikan kata kata terakhir kamu” Chelsea membaca sebuah kalimat yang ditulis dengan darah di dinding kelas tersebut.

“gue belum mau mati! Kurang kerjaan banget sih yang ngelakuin ini! Gue mau pulang!”teriak Chelsea sambil berbalik.

Saat berbalik, sebuah pisau berada dihadapannya ditunjukkan sosok berjubah hitam itu.

“Iy—ya iya…” Chelsea kembali menatap kalimat bertulisan darah itu.


“Gue mau, orang orang terdekat gue bahagia. Tapi plis gue mau ngerasain bahagia dulu. Gue capek di phpin sama kak Bagas! Gue mau ngerasain gimana rasanya dicintai. Udah itu aja…”ucap Chelsea.
Ntah kenapa, saat dia berkata itu, air matanya kembali menetes.


Suasana disitu menjadi sunyi, diam kelam.

“Cie yang capek diphp-in…” seorang cowok berjambul atas dengan lilin ditangannya datang menghampiri Chelsea.

Chelsea terdiam dan menoleh ke sumber suara.

“Kak Bagas? Ini siap—?”

Sosok berjubah itu membuka jubah hitamnya, “gue Salsha… Mantan Bagas”ucap cewek yang ternyata Salsha yang dicari-cari Chelsea.

“Mant--?”
“Hari ini anniv failed kami yang ke satu tahun.”ujar Salsha.

Chelsea manggut manggut tidak enak, “jadi anniv satu tahun kalian harus jadi gue yang jadi bahan percobaannya? Gak lucu banget pake sok sokan bunuh segala.  Udah ah, untung aja gue beneran gak kena tuh pisau. Haha, lucu yah” Chelsea tersenyum sinis kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


“gue bukan mau mamerin sama lo kalo gue sama Bagas anniv failed ke satu tahun, atau bahkan mau balikan sama Bagas di depan lo. Tapi gue mau, lo gantiin posisi gue sebagai pacar Bagas. Gue hanya  cukup jadi mantannya”teriak Salsha.

Chelsea menghentikan langkahnya, kemudian berbalik.

“Maksud lo?”

“Chelsea, to be honest I've been trying to memorize the song korea, but until now, I still can not. so, I'm doing this for you. and, with a brief statement of Salsha, will you be my girlfriend?”

DEG

Chelsea berusaha untuk tidak salah tingkah di depan Bagas dan Salsha.

“I can’t hear.  Retry please”

“Chelsea , jujur aku sudah berusaha menghafal lagu korea, tapi sampai sekarang, aku masih enggak bisa. jadi, aku melakukan hal ini untuk kamu. dan, dengan sebuah pernyataan singkat dari Salsha, maukah kamu menjadi pacarku?”terjemah Bagas.

Jarak mereka yang begitu berjauhan, membuat Chelsea tidak sesalah tingkah yang dipikir Bagas.
1menit…
2menit…
3menit…
4menit…
5menit…


“If I say I wil, what would you do?”sahut Chelsea.

Bagas berteriak gembira, “Thankyou, I really love you!” Dengan cepat Bagas berlari mendatangi Chelsea dan memeluknya erat.

Chelsea mengangguk pelan, “Ok, jangan php-in orang lagi yah kak” Bagas tertawa geli dan mengangguk.

Salsha tersenyum melihat keduanya.
___

TBC~