Let Me
Be (I Do)
Author:
Alya Nirmala
|||
Sudut bibirnya
tertarik hingga mencapai pipi. Sebuah celetukan keluar dari mulutnya yang
terdengar sangat kecil sekali. Matanya tak henti memandangi sosok dihadapannya.
Sebuah bucket bunga mawar merah ditangan sosok tersebut. Sosok berpostur tubuh
tinggi itu menghadap dirinya dengan sebucket mawar. Dengan kaos putih dilapis
jaket yang tak berkancing dan celana jeans, pria itu menghadapnya. Jaket pemberian
gadis yang tersenyum itu masih ada dipakainya. Walau warna jaket itu warna yang
paling tidak disukai si pria, ia masih rela memakainya. Dan sekarang, dua
pasang mata itu bertatapan layaknya bola mata mereka lah yang berbicara.
“Untuk
ku?”
Pria itu
mengangguk cepat. Ia semakin mendekatkan bucket bunga tersebut pada gadis
berbola mata cokelat itu. Hingga tangan si gadis menerimanya dan mencium bau
bunga tersebut.
“Terimakasih…”
Benar
perkiraan si pria. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Ia menutup matanya
untuk merasakan bau mawar merah yang ditujukan untuk sang kekasih.
“Bagaimana?
Aku sudah romantis bukan?”tanya Bagas, pria pemberi bunga.
Chelsea,
si gadis berbola mata cokelat itu diam, tampaknya ia berpikir sejenak. “Belum…
Masih 2%! sudah, kamu lanjutkan saja latihan basketnya. Aku masih sibuk dengan
tugas menggambarku. Ini tidak akan selesai, jika kamu terus berada di dekatku”
Bagas
tersenyum kecil, “Hehe kamu tidak tahan dengan ketampananku ini kan?”langsung
dijawab cepat oleh si pria. Gadis itu kembali menimpali, “Bukan. Karena tubuhmu
bau. Sangat berbanding terbalik dengan bunga yang kamu berikan padaku.
Seharusnya, jika kamu sehabis latihan basket, langsung pulang ke rumah dan
bersihkan tubuhmu, lalu memberi bucket bunga mawar ini padaku. Jangan langsung
beri… dasar bau masam”
Bagas
mengerucutkan bibirnya hingga dua centi. “Baiklah… besok besok aku akan
mengikuti perintahmu. Aku pulang dulu ya. Sebenarnya tubuhku memang bau… Huh”
Chelsea
tersenyum ketika melihat punggung pria itu mulai menjauhinya. Ia pulang dengan
motor ninjanya, meninggalkan gadis cantik itu yang berada di belakang rumahnya.
“Hati-hati.
Sekali lagi terimakasih ya….” Sekali gerak, tangan Chelsea melambai ke arah
Bagas yang mulai menyalakan mesinnya. Bagas tersenyum melihat gadis itu.
“Kamu
tidak bau. Dan kamu benar, aku tidak mampu menyelesaikan tugasku, jika melihat
wajahmu…”gumamnya kecil sambil melirik mawar merah tersebut.
|||
“Tidak
biasanya sore sore seperti ini kau menyelesaikan tugas menggambarmu. Biasanya
pagi jika sudah berada disekolah. Tapi, aku memberimu uplous untuk ini” Marsha
datang dengan gumamannya ketika melihat Chelsea sedang bersantai di halaman
belakang rumahnya dengan segulung tikar direrumputan dan tangannya yang tengah
mencoret diselembar kertas.
Chelsea
menoleh melihat wajah sahabatnya, ketika Marsha bertepuk tangan. “Kau ini…
seharusnya memberi semangat lagi untukku. Bukannya meledekku seperti itu. Kan
lebih lumayan, aku tidak harus mencontek hasil animemu dipagi hari. Hihi”
Marsha
cekikikan sejenak. Matanya beralih ke sebelah kanan tubuh Chelsea yang
telungkup untuk mengerjakan tugasnya. Sebucket mawar?
“Mawar? Siapa lagi yang memberimu bunga itu?”
Chelsea
memutar bola matanya, “Oh. Bagas”
Marsha
tergelak, “Pria kutu buku itu? Apa kau serius?”
“Kau
pikir dia tidak bisa romantis seperti Rafli membelikanmu deodorant? Huh”
|||
Chelsea
melirik pria disampingnya yang tengah membaca buku sambil berjalan dengannya,
“Kamu sangat fokus sekali”
Bagas
melirih pelan, “ya emh… besok ujian. Dan aku tidak mau nilaiku turun karena
kita berjalan berdua”
“Kita
hanya berjalan dari kelas hingga gerbang sekolah, waktu sedikitpun tidak bisa
kamu pakai?”
Bagas
menggeleng, “ini sangat penting sayang…”
Chelsea
menggeleng-gelengkan kepalanya, “ckck. Sifat semalammu itu hanya timbul sekali
dalam seumur hidup”
Bagas menautkan
kedua alisnya, langkahnya masih tetap menapaki tanah, “berita terpanaskah, jika
diyakini seseorang, bahwa ada bidadari yang tinggal dan hidup dibumi? Dia ada….
Apa kamu percaya?”
Chelsea
mengerutkan dahinya mendadak serius, “kamu barusan membacanya dibuku itu? Tentu
saja aku tidak percaya. Bagaimana denganmu?”
“mungkin
aku percaya. Bidadarinya itu ada disampingku”
Dengan
cepat Chelsea mengembangkan senyuman dibibirnya dengan lebar. Ia memukul kecil
lengan Bagas. “Dasar gombal”
|||
Desc Bagas – Marsha Blaem’ss
Chelsea
menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat salah satu pertanyaan dari Marsha
di akun ask.fmnya.
Desc Bagas – Marsha
Blaem’ss
Kutu
buku akut, pebasket, tidak romantis, tapi suka membuatku tersenyum—Chelsea Terr
|||
“Bagas,
berhenti sebentar ya? Lihat saja hanya dua menit” Chelsea mendongakkan
kepalanya supaya Bagas bisa menuruti perkataannya.
“Tidak
Chelsea. Korban kecelakaan itu sangat mengenaskan… aku takut, nanti kamu
ketakutan. Sudahlah” chelsea menggeleng cepat.
“Hanya
dua menit. Ayo kita turun…” Bagas mengerutkan dahinya.
“Tidak…
aku tau, kamu mempunya phobia pada darah yang banyak. Kamu fikir aku tidak
tau?” seketika itu sudut bibir Chelsea merekah. “Kamu tau darimana?”
“Aku
memang bukan tipe romantis pada setiap perempuan, tetapi, aku tau lebih banyak tentangmu. Lebih baik kita
tinggalkan tempat ini, dan akan ku tunjukkan denganmu, sebuah tempat. Yang
sangat indah…”
Mata
Chelsea berbinar, “tempat apa itu?”
|||
“Danau?”
Chelsea memandang ke arah tempat tersebut. Bagas meliriknya pelan. Tentu saja
ia tau, Danau itu tempat yang dipaling dibencinya.
“Kamu
benci dengan danau kan?”tebak Bagas. Chelsea mengangguk cepat.
“Karena
disini banyak kenangan indahmu dengan Karel, your ex-Heart ?” Tebakan Bagas itu membuatnya sendiri tertawa.
Chelsea melirihnya pelan. “Kamu tak marah? Bagaimana bisa kamu tau?”
“Kan
sudah aku bilang, aku tau banyak tentangmu. Aku juga mempunyai kenangan burung
tentang itu, EMH— sudah lupakan. Kamu ingin tau, aku mengajakmu kesini untuk
apa?”anggukan kepala Chelsea langsung dituturkannya.
Bagas
menunjukkan ke arah ujung kanan dengan telunjuknya. Bola mata Chelsea mengikuti
kemana telunjuk Bagas tuju. Segerombolan anak-anak yang tengah duduk bersila
dengan tumpuan buku di tangannya.
“Kamu—?”ia
melirik kecil Bagas.
Dengan
cepat gadis berambut dark brown itu berlari mendatangi kumpulan anak-anak yang
kira-kira berusia 5-11 tahun itu. Bagas tersenyum melihat punggung gadisnya itu
dan rambutnya yang berterbangan. Dengan pelan, ia mulai mengikutinya.
“Hai
adik adik manis. Kalian sedang apa?” sapa Chelsea dengan rekahan senyuman.
Sebagian
anak menoleh lalu menjawab dan sebagian lagi asyik membaca tanpa menoleh
sedikitpun pada Chelsea.
“Sedang
membacalah kak”
“Hai
kakak cantik. Kami sedang membaca buku yang bagus”
Chelsea
tertawa mendengar setengah yang menjawab ketus dan setengah lagi menyambutnya
dengan baik. “Bukunya sangat asyik ya? Wah…” Dengan pelan, ia mulai mendekati
seorang anak yang sedang serius-seriusnya membaca.
“Hai
manis. Kamu sedang membaca apa?” perempuan kecil itu menoleh, “Komik kak”
kembali lagi, pandangan si anak fokus pada komik yang dibacanya.
Chelsea
mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah…”
“Hai…
kamu sedang membaca apa?”tanya Chelsea pada anak perempuan berambut hampir
sepinggang, berponi dora dan memakai bandana biru.
Anak
tersebut hanya diam. Membuat Chelsea semakin penasaran padanya. “Halo…”sapanya
kembali.
Akhirnya
anak kecil itu menoleh, ia hanya menatap aneh wajah Chelsea. Kemudian kembali
difokuskannya wajahnya pada buku yang dibacanya.
“Kamu
sedang apa cantik?” tiba-tiba anak tersebut mengeluarkan pulpen dan selembar
kertas dan mencoret sesuatu dikertas putih itu.
HAI KAKAK MANIS.
AKU SEDANG MEMBACA DONGENG…
Chelsea
membaca kertas yang disodorkan padanya.
Walaupun tulisannya hampir tidak bisa terbaca oleh Chelsea, tetapi ia masih
bisa membacanya sedikit.
“Mengapa
kamu membalas perkataanku dengan tulisan?”tanya Chelsea dengan sopan.
Pertanyaan
Chelsea membuat anak perempuan itu memeragakan tangannya layaknya suara, lalu
ia menggelengkan kepalanya.
“Dia
salah satu anak panti asuhan yang berbeda dengan yang lainnya disini. Dia tidak
bisa berbicara, tetapi ia sangat cerdas…”jelas Bagas yang tiba-tiba datang.
Chelsea
menoleh, mendengar perkataan Bagas membuat hatinya tersentuh. “Maaf. Bukan
maksudku untuk begitu….”ia menundukkan kepalanya.
Bagas
tersenyum melihat anak perempuan itu, “tetapi Chira anak yang cerdas, dan
sangat cantik”puji Bagas. Chelsea mendongak, bibirnya membentuk sebuah
senyuman.
Bahagia dengan apa yang ada lebih baik. Syukuri apa yang ada pada dirimu, dan apa yang telah dianugerahkan tuhan padamu !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar