Jumat, 03 April 2015

Oneshoot : Let Me Be (I Do)

Let Me Be (I Do)


Author: Alya Nirmala


|||

Sudut bibirnya tertarik hingga mencapai pipi. Sebuah celetukan keluar dari mulutnya yang terdengar sangat kecil sekali. Matanya tak henti memandangi sosok dihadapannya. Sebuah bucket bunga mawar merah ditangan sosok tersebut. Sosok berpostur tubuh tinggi itu menghadap dirinya dengan sebucket mawar. Dengan kaos putih dilapis jaket yang tak berkancing dan celana jeans, pria itu menghadapnya. Jaket pemberian gadis yang tersenyum itu masih ada dipakainya. Walau warna jaket itu warna yang paling tidak disukai si pria, ia masih rela memakainya. Dan sekarang, dua pasang mata itu bertatapan layaknya bola mata mereka lah yang berbicara.

“Untuk ku?”

Pria itu mengangguk cepat. Ia semakin mendekatkan bucket bunga tersebut pada gadis berbola mata cokelat itu. Hingga tangan si gadis menerimanya dan mencium bau bunga tersebut.

“Terimakasih…”

Benar perkiraan si pria. Gadis itu menerimanya dengan senang hati. Ia menutup matanya untuk merasakan bau mawar merah yang ditujukan untuk sang kekasih.

“Bagaimana? Aku sudah romantis bukan?”tanya Bagas, pria pemberi bunga.

Chelsea, si gadis berbola mata cokelat itu diam, tampaknya ia berpikir sejenak. “Belum… Masih 2%! sudah, kamu lanjutkan saja latihan basketnya. Aku masih sibuk dengan tugas menggambarku. Ini tidak akan selesai, jika kamu terus berada di dekatku”

Bagas tersenyum kecil, “Hehe kamu tidak tahan dengan ketampananku ini kan?”langsung dijawab cepat oleh si pria. Gadis itu kembali menimpali, “Bukan. Karena tubuhmu bau. Sangat berbanding terbalik dengan bunga yang kamu berikan padaku. Seharusnya, jika kamu sehabis latihan basket, langsung pulang ke rumah dan bersihkan tubuhmu, lalu memberi bucket bunga mawar ini padaku. Jangan langsung beri… dasar bau masam”

Bagas mengerucutkan bibirnya hingga dua centi. “Baiklah… besok besok aku akan mengikuti perintahmu. Aku pulang dulu ya. Sebenarnya tubuhku memang bau… Huh”

Chelsea tersenyum ketika melihat punggung pria itu mulai menjauhinya. Ia pulang dengan motor ninjanya, meninggalkan gadis cantik itu yang berada di belakang rumahnya.

“Hati-hati. Sekali lagi terimakasih ya….” Sekali gerak, tangan Chelsea melambai ke arah Bagas yang mulai menyalakan mesinnya. Bagas tersenyum melihat gadis itu.

“Kamu tidak bau. Dan kamu benar, aku tidak mampu menyelesaikan tugasku, jika melihat wajahmu…”gumamnya kecil sambil melirik mawar merah tersebut.

|||

“Tidak biasanya sore sore seperti ini kau menyelesaikan tugas menggambarmu. Biasanya pagi jika sudah berada disekolah. Tapi, aku memberimu uplous untuk ini” Marsha datang dengan gumamannya ketika melihat Chelsea sedang bersantai di halaman belakang rumahnya dengan segulung tikar direrumputan dan tangannya yang tengah mencoret diselembar kertas.

Chelsea menoleh melihat wajah sahabatnya, ketika Marsha bertepuk tangan. “Kau ini… seharusnya memberi semangat lagi untukku. Bukannya meledekku seperti itu. Kan lebih lumayan, aku tidak harus mencontek hasil animemu dipagi hari. Hihi”
Marsha cekikikan sejenak. Matanya beralih ke sebelah kanan tubuh Chelsea yang telungkup untuk mengerjakan tugasnya. Sebucket mawar?
 “Mawar? Siapa lagi yang memberimu bunga itu?”

Chelsea memutar bola matanya, “Oh. Bagas”

Marsha tergelak, “Pria kutu buku itu? Apa kau serius?”
“Kau pikir dia tidak bisa romantis seperti Rafli membelikanmu deodorant? Huh”                                 

|||

Chelsea melirik pria disampingnya yang tengah membaca buku sambil berjalan dengannya, “Kamu sangat fokus sekali”
Bagas melirih pelan, “ya emh… besok ujian. Dan aku tidak mau nilaiku turun karena kita berjalan berdua”
“Kita hanya berjalan dari kelas hingga gerbang sekolah, waktu sedikitpun tidak bisa kamu pakai?”
Bagas menggeleng, “ini sangat penting sayang…”

Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya, “ckck. Sifat semalammu itu hanya timbul sekali dalam seumur hidup”

Bagas menautkan kedua alisnya, langkahnya masih tetap menapaki tanah, “berita terpanaskah, jika diyakini seseorang, bahwa ada bidadari yang tinggal dan hidup dibumi? Dia ada…. Apa kamu percaya?”

Chelsea mengerutkan dahinya mendadak serius, “kamu barusan membacanya dibuku itu? Tentu saja aku tidak percaya. Bagaimana denganmu?”

“mungkin aku percaya. Bidadarinya itu ada disampingku”

Dengan cepat Chelsea mengembangkan senyuman dibibirnya dengan lebar. Ia memukul kecil lengan Bagas. “Dasar gombal”

|||

Desc Bagas – Marsha Blaem’ss

Chelsea menggeleng-gelengkan kepalanya ketika melihat salah satu pertanyaan dari Marsha di akun ask.fmnya.

Desc Bagas – Marsha Blaem’ss          
Kutu buku akut, pebasket, tidak romantis, tapi suka membuatku tersenyum—Chelsea Terr

|||

“Bagas, berhenti sebentar ya? Lihat saja hanya dua menit” Chelsea mendongakkan kepalanya supaya Bagas bisa menuruti perkataannya.

“Tidak Chelsea. Korban kecelakaan itu sangat mengenaskan… aku takut, nanti kamu ketakutan. Sudahlah” chelsea menggeleng cepat.
“Hanya dua menit. Ayo kita turun…” Bagas mengerutkan dahinya.

“Tidak… aku tau, kamu mempunya phobia pada darah yang banyak. Kamu fikir aku tidak tau?” seketika itu sudut bibir Chelsea merekah. “Kamu tau darimana?”
“Aku memang bukan tipe romantis pada setiap perempuan, tetapi, aku  tau lebih banyak tentangmu. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini, dan akan ku tunjukkan denganmu, sebuah tempat. Yang sangat indah…”
Mata Chelsea berbinar, “tempat apa itu?”
|||

“Danau?” Chelsea memandang ke arah tempat tersebut. Bagas meliriknya pelan. Tentu saja ia tau, Danau itu tempat yang dipaling dibencinya.
“Kamu benci dengan danau kan?”tebak Bagas. Chelsea mengangguk cepat.
“Karena disini banyak kenangan indahmu dengan Karel, your ex-Heart ?” Tebakan Bagas itu membuatnya sendiri tertawa. Chelsea melirihnya pelan. “Kamu tak marah? Bagaimana bisa kamu tau?”

“Kan sudah aku bilang, aku tau banyak tentangmu. Aku juga mempunyai kenangan burung tentang itu, EMH— sudah lupakan. Kamu ingin tau, aku mengajakmu kesini untuk apa?”anggukan kepala Chelsea langsung dituturkannya.

Bagas menunjukkan ke arah ujung kanan dengan telunjuknya. Bola mata Chelsea mengikuti kemana telunjuk Bagas tuju. Segerombolan anak-anak yang tengah duduk bersila dengan tumpuan buku di tangannya.
“Kamu—?”ia melirik kecil Bagas.

Dengan cepat gadis berambut dark brown itu berlari mendatangi kumpulan anak-anak yang kira-kira berusia 5-11 tahun itu. Bagas tersenyum melihat punggung gadisnya itu dan rambutnya yang berterbangan. Dengan pelan, ia mulai mengikutinya.

“Hai adik adik manis. Kalian sedang apa?” sapa Chelsea dengan rekahan senyuman.
Sebagian anak menoleh lalu menjawab dan sebagian lagi asyik membaca tanpa menoleh sedikitpun pada Chelsea.

“Sedang membacalah kak”
“Hai kakak cantik. Kami sedang membaca buku yang bagus”

Chelsea tertawa mendengar setengah yang menjawab ketus dan setengah lagi menyambutnya dengan baik. “Bukunya sangat asyik ya? Wah…” Dengan pelan, ia mulai mendekati seorang anak yang sedang serius-seriusnya membaca.
“Hai manis. Kamu sedang membaca apa?” perempuan kecil itu menoleh, “Komik kak” kembali lagi, pandangan si anak fokus pada komik yang dibacanya.
Chelsea mengangguk sambil tersenyum, “Baiklah…”

“Hai… kamu sedang membaca apa?”tanya Chelsea pada anak perempuan berambut hampir sepinggang, berponi dora dan memakai bandana biru.
Anak tersebut hanya diam. Membuat Chelsea semakin penasaran padanya. “Halo…”sapanya kembali.
 
Akhirnya anak kecil itu menoleh, ia hanya menatap aneh wajah Chelsea. Kemudian kembali difokuskannya wajahnya pada buku yang dibacanya.

“Kamu sedang apa cantik?” tiba-tiba anak tersebut mengeluarkan pulpen dan selembar kertas dan mencoret sesuatu dikertas putih itu.

HAI KAKAK MANIS. AKU SEDANG MEMBACA DONGENG…

Chelsea membaca  kertas yang disodorkan padanya. Walaupun tulisannya hampir tidak bisa terbaca oleh Chelsea, tetapi ia masih bisa membacanya sedikit.

“Mengapa kamu membalas perkataanku dengan tulisan?”tanya Chelsea dengan sopan.

Pertanyaan Chelsea membuat anak perempuan itu memeragakan tangannya layaknya suara, lalu ia menggelengkan kepalanya.

“Dia salah satu anak panti asuhan yang berbeda dengan yang lainnya disini. Dia tidak bisa berbicara, tetapi ia sangat cerdas…”jelas Bagas yang tiba-tiba datang.
Chelsea menoleh, mendengar perkataan Bagas membuat hatinya tersentuh. “Maaf. Bukan maksudku untuk begitu….”ia menundukkan kepalanya.


Bagas tersenyum melihat anak perempuan itu, “tetapi Chira anak yang cerdas, dan sangat cantik”puji Bagas. Chelsea mendongak, bibirnya membentuk sebuah senyuman.


Bahagia dengan apa yang ada lebih baik. Syukuri apa yang ada pada dirimu, dan apa yang telah dianugerahkan tuhan padamu ! 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar