Sabtu, 04 April 2015

When They Become Parents : My Everyhing (2) #MyHeartWillGoOn

When They Become Parents : My Everything (2) or #MyHeartWillGoOn

Author : Alya Nirmala

ΠΠΠ

"Dede bayi, kamu jangan
bandel diperut mama ya!"

Seulas senyuman direkah Chelsea ketika mendengar perkataan anak perempuannya, Thalita.

Bagas yang tengah sibuk dengan koran pagi yang baru diantar oleh loper koran langganan langsung menoleh ke arah mereka berdua.

"Dede bayinya gak bandel Thalita, kamunya aja yang bandel"

Anak cantik itu berjalan pelan mendekati ayahnya dengan wajah merah padam.

"Papa bilang apa?"

Bagas tersenyum tanpa dosa di depannya.

"Udah jangan berantem. Masih pagi lho..."lerai Chelsea.

Bagas nyengir, Thalita cengengesan. Dengan cepat Thalita naik ke atas paha ayahnya minta dipangku.

"Ih Thalita, papa masih baca koran lho"

Perempuan kecil itu nyengir kembali, "Papa kok bisa ganteng banget sih? Ih jadi gemes"

Chelsea menyembulkan tawanya kala anaknya memuji sang ayah hanya karena ingin dipangku.

Bagas cekikikan mendengarnya, "Papa kan emang ganteng. Jelas..."

Thalita terdiam sejenak, menatap sang ayah di hadapannya. "Gak jadi deh. Papa bau... Ih"

Bagas mencium bajunya, "Enggak kok. Apaan Thalita is"

Dengan cepat, perempuan kecil itu memeluk sang ayah. "Bohong kok. Hehe"

Bagas menggelitiki anak chubbynya tersebut.

ΠΠΠ

"Sayang, gak terasa dua bulan lagi kita punya anak lagi ya"

Chelsea mengulum senyumnya, kemudian mengangguk pelan.

"Maafin aku ya. Jadi ngerepotin kamu. Apa apa kamu yang ngerjain"

Bagas mengangguk sambil tersenyum, "Gak papa kok"

Chelsea membalas senyumnya, matanya melirik perutnya yang sudah membesar.

"Anak kita nanti dua. Namanya siapa ya?"tanya Bagas.

"Kemaren udah diusg, dan katanya perempuan"

"Kalau nama anak perempuan banyak banget loh gas"lanjutnya.

"Nanti aku cari oke. Kamu pikirin kandungan kamu aja. Kamu dan jabang bayi kita sehat, udah berarti bagi aku. Thalita aku yang ngurus 😘 "
Bagas mengecup puncak kepala Chelsea.

Perempuan itu tersenyum sambil mengangguk.

ΠΠΠ

"Ma, Thalita punya tiga barbie. Satu namanya Chelsea, satu namanya Thalita, satu namanya Chila"

Chelsea tersenyum. "Chila siapa sayang?"

"Chila nama dede buatan Thalita. Namanya lucu kan?"

Chelsea terdiam lalu mengangguk, "bagus kok sayang. Thalita memang anak mama yang pinter!"

Thalita tersenyum, kemudian ia membawa salah satu barbienya yang tadi disebut Chila ke dekat mamanya.

"Chila, semoga besar nanti kamu sama seperti barbie kakak ya"

Chelsea tertawa pelan. "Iya kakak Thalita" Ia memperagakan seolah-olah yang berbicara adalah si jabang bayi.

"Baiklah. Janji ya! Kakak pengen kamu cepat lahir, cepat besar, biar bisa main sama kakak"

"Iya kakak. Chila janji" Chelsea meraih wajah Thalita lalu memainkan hidungnya.

"Mama sayang sama Thalita!"

ΠΠΠ

"Jadi namanya Chila?"

Chelsea mengangguk, "Thalita punya usul, Chila aja ya gas"

Bagas menatap Thalita yang terlelap di sampingnya.

"Anak kita pinter banget..."

Chelsea mengangguk, "tentu dong"
Bagas mengangguk sambil mengecup pipi sang anak pelan.

"Oh iya sayang, lusa aku ada meeting diluar kota lho. Aku takut banget ninggalin kalian"

"Gak papa kok. Memangnya berapa hari?"

"Kira-kira tiga hari. Jujur aku udah nolak, tapi clien aku gak bisa katanya"

Chelsea terdiam sejenak, "Gak papa kok. Pokoknya Chila dan Thalita aman sama aku. Mudah-mudahan"

"Amin"

ΠΠΠ

Esok malamnya, Chelsea mengeluh keras, sakit pada perutnya sangat di deritanya. Bagas yang tengah prepare menjadi khawatir.

"Masih sakit ya sayang?"

"Sakit banget gas." Chelsea berbaring dibantu dengan Bagas.  Sedangkan Thalita memeluk sang ibu.

"Aku batalin aja ya. Aku gak tega liat kamu begini" Bagas menggenggam erat tangan Chelsea yang dingin.

Dengan keringat bercucuran, Chelsea menggeleng.

"Udah kamu pergi aja. Jangan di delay. Nanti client kamu pada marah..."

"Enggak. Aku gak bisa... Delay aja. Nanti aku bicara baik-baik" tutur Bagas sambil mengusap dahinya.

Chelsea menggeleng, "terserah... Sakit banget"

ΠΠΠ

Wanita muda itu menangis dipelukan Bagas. "Maaf banget gas😢 karena aku semalam, kamu jadi kehilangan client kamu 😢 hiks "

Bagas menggeleng sambil membelai rambutnya.

"Gak papa. Aku lega kalau kamu udah gak ngerasa sakit lagi sayang😘 Aku mencintaimu"

Chelsea menghela nafasnya. Begitu adilnya tuhan memberikannya pasangan hidup seperti Bagas, hingga akhir hayatnya.

ΠΠΠ

"Hari ini kita bagi tugas. Thalita ngelap kaca. Papa nyapu sama ngepel. Oke?"

Bagas bertos ria dengan Thalita. Chelsea yang melihatnya tersenyum perih, "Maafin mama gak bisa bantuin kalian..."

Thalita tersenyum melirik sang ayah kecil.

"Mama bawel kan? Udah dibilangin mama jaga Chila aja... Ih bandel"

Chelsea tersenyum mendengar celetukan putrinya.

"Iya iya. Mama ikut bantuin aja ya. Mama hm"

"Gak usah ma. Mama bandel ih"

"Kamu bantu dengan doa aja yahh"ucap Bagas sambil mengunci kamarnya yang dalamnya Chelsea. Ia dan Thalita bertos ria kembali.

"Asal Chila dan Mama sehat!"

ΠΠΠ

"Asal Chila dan Mama sehat"

Chelsea tersenyum lirih mendengar kecil celetukan dan yel-yel mereka selama mengerjakan tugas rumah.

Chelsea tersenyum kembali dari balik pintu ketika mendengar tugas tersebut mereka kerjakan dengan senang hati.

"Maafin mama..."

ΠΠΠ

Usia kandungan Chelsea hampir menginjak usia 8 bulan. Ia masih berhati-hati menjaga jabang bayi yang ada. Dengan tekun pula Bagas memberinya makan-makan yang sehat. Olahraga teratur kiat dilakukannya pagi dan sore.

Dan saat ini, keluarga kecil itu tengah menyantap sebuah pie hangat dan secangkir kopi.

Tetapi ditengah-tengah jamuan, ponsel Bagas yang diatas meja berdering.

Bagas menaikkan alisnya isyarat pamit sebentar untuk mengangkat telepon.

Kira-kira sepuluh menit ia bertelepon dengan sang penelpon di seberang, dan setelah itu kembali dengan wajah tegang.

"Ada apa gas?"tanya Chelsea sambil memakan biskuitnya.

"Sayang--"

"Ih papa kaya dikejer setan terus ngegombal deh. Sayang sayang"celetuk Thalita.

Chelsea tertawa kecil, "gak boleh gitu sayang, hihi"

"Papa serius ath. "

"Iya iya. ada apa sih?"

"Ada meeting diluar kota. Dan itu wajib... panggilan terakhir"

Chelsea terdiam. "Yaudah nggak papa kok. Thalita sama aku."

"Aku gak yakin deh.. Gimana nih?"

"Oh.. Nanti aku coba panggil Tissa, di bandung. Manatau bisa."

"Oh iya. Aku baru inget... "

Chelsea nyengir, "Thalita bisa kok sama mama. ya kan sayang?"

ΠΠΠ

"Aduh"

Chelsea menahan rasa sakitnya diperut.

Bagaimana ini?

Dua jam lagi Bagas akan segera berangkat menuju Bogor. 

Chelsea benar benar tidak boleh mengadu pada Bagas sekarang.

Tidak. Dia harus kuat.

Chelsea meremas bajunya. "Ya tuhan..."

Perlahan jatuh air mata dari pelupuk matanya, "gak boleh"

ΠΠΠ

"Jadi kapan datengnya si Tissa Chels?"

"besok gas. Kamu tenang aja yah"

Bagas tersenyum, ia melirik peralatan kerjanya. "Kamu gak kerasa sakit kan?"

Chelsea terdiam.

"Chels? gak sakit?"

Chelsea menggigit bibir bawahnya, dengan cepat ia menggeleng.

"Papa tenang aja. Thalita bakal jagain mama." sembulnya.

Chelsea tersenyum perih, "iya sayang"

Bagas tersenyum setelah berpikir sejenak. Ada yang aneh...

"kok feel aku gak enak yah? Eh... gak boleh"tuturnya pelan.

Chelsea menggeleng, "Hati hati ya sayang. Doain, gak ada apa-ap--"

Chelsea mulai merasakan pusing dikepalanya. "Iya... Aku bakal doain kalian. Papa pergi dulu ya"

Chelsea mengangguk, ia mencium tangan Bagas dan pipinya. Begitu juga dengan Thalita.

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua" pekik Bagas melirik perut Chelsea.

"Iya papa"

Chelsea tersenyum ketika melihat sosok lelaki itu mulai menaiki mobil.

"I'm Sorry if later, I let you down~"

ΠΠΠ

'PLANG'

Gelas itu terpecah belah karena ulah Bagas yang sedang tidak berkonsentrasi.

Bagas berusaha menepis firasat buruknya.

"Astagfirullah, Mudah-mudahan gak terjadi apa-apa ya Allah"

ΠΠΠ

"Sayang, nanti kamu dijemput sama tante Tissa yah"bisik Chelsea pelan sekali.

Thalita heran pada tingkahnya saat ini. Aneh

"Suara mama kok kecil gitu sih?"

"Nggak sayang. Lagi batuk serak"alibinya.

Thalita mengangguk, "yaudah ma. Thalita  pergi sekolah dulu ya. Kalau ada apa-apa mang Usup satpam ada kan di luar? "

Chelsea tersenyum, "iya sayang. Hati hati ya"

ΠΠΠ

Tap
Tap
Tap

Chelsea mulai merasa kepalanya sempoyongan. Perutnya yang semalaman nyeri, mulai reda. Hanya sedikit rasanya.

Ia duduk dengan suara ketukan sandal rumahnya pengisi suara.

Seakan-akan ingatannya terngiang ketika Bagas masih disini kemarin ketika ia mengucapkan kalimat pada sang jabang bayi.

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya.
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua"

Tidak.

Pikirannya mulai melesat ntah kemana. Dadanya seakan tertarik sementara.

Chelsea mulai merebahkan dirinya sementara dikursi. Berjalan ke kamar saja ia tak mampu.

Ia berdiam sementara di dekat kursi tersebut.

Hingga ...

ΠΠΠ

"Chels, gue dateng... Halo"

"Mamaaaa"

Teriakan itu membangunkan Chelsea dari gumamannya.

Ia mulai berdiri dan menatap Thalita dan Tissa sudah ada diambang pintu.

"Hai sayang..."

Ia mulai menjajaki tangga dirumahnya. Dengan pikiran melayang dan wajah pucat pasi, ia turun pelan-pelan.

Tissa yang melihat hal tersebut mulai berpikiran buruk.

Sedangkan Chelsea masih pada gema pikirannya,

"Dadah sayang. Maafin papa udah ninggalin kamu, mama sama kak Thalita ya
Baik baik sama mama. Papa sayang kalian semua"

Ucapan Bagas terus melayang dibenaknya.

PLTAK

Sandal Chelsea melesat di area tangga.

"MAMAAAA!!!!"

ΠΠΠ

'SRITTT'

"Gas, lo bawa mobil gimana sih?! lo mau bunuh diri? Hampir aja nabrak pohon tau!" tukas Difa, karibnya.

Bagas mengacak-acak rambutnya, "lo ngertian dikit kenapa sih?! istri sama anak gue dirumah! istri gue ngandung tua, lo gak ada respect sama sekali ya?! oh ya anak lo kan gak ada"

Difa mengelus dadanya, menghela nafasnya, "lo tenangin diri lo dulu deh. gue yang nyetir"

ΠΠΠ

"Chelsea!! Lo bertahan ya!!" Tissa mengelus dahi Chelsea. Air matanya terus merembes ketika melihat ceceran darah terus mengalir.

"Tante, mama kenapa?!! Dede gak papa kan?! Thalita takut"

Tissa menggeleng, "gak papa sayang. Kamu tenang ya, jangan nangis"

Ambulan berhenti ketika menjajaki rumah sakit.

"lakukan perawatan darurat segera!!"intruksi seorang dokter kala Chelsea dibawa.

ΠΠΠ

"Hah? apa?! lo serius?!! gue langsung ke jakarta sekarang. Lo tunggu, stay disana. Jagain Thalita!!"

Secepat kilat Bagas tancap gas dari bogor menuju rumah sakit tempat Chelsea dirawat.

"Yaallah..."

ΠΠΠ

Hingga 7 jam perawatan intensif dilakukan. Thalita yang masih memakai baju seragam sekolah terus menangis di pelukan Tissa.

"tante, mama sama Chila gak papa kan??"

Berulang kali pertanyaan itu diajukan Thalita yang bersimpuh dipelukannya.

"Kamu doa ya sayang"

"papa mana tante?"mata anak cantik itu sudah sembab.

"papa lagi dijalan ke sini. kamu tidur dulu ya..."

Thalita menggeleng, "Thalita gak mau kehilangan mereka tan"

Sesosok laki berpostur tubuh tinggi mendatangi mereka.

"keadaan Chelsea gimana Tis? gak papa kan?"

Mereka berdua menoleh, "belum ada tanda-tanda.."

ΠΠΠ

*My Heart Will Go On*

Seorang Dokter berpakaian hijau keluar dari ruangan.

Secepat kilat mereka bertiga mendatanginya. "Bagaimana dok?"

Dokter itu menatap bola mata mereka, sesekali ia menghela nafasnya.

"dok!!! cepat jawab"

Dokter tersebut menghela nafasnya.

"dok!"

"Istri anda dapat diselamatkan, tetapi bayi yang berusia delapan bulan dikandungannya dinyatakan meninggal"

Bagas segera memeluk Thalita yang sangat menangis. "Chila mana pa?!! Chila mana?! Thalita pengen main sama Chila. Thalita sabar nunggu Chila sampai besar biar bisa main sama Thalita. Tapi jangan pergi... Plis jangan pergi"

Bagas tersenyum perih, air matanya merembes memeluk Thalita.

"istri saya mana dok?"

"anda bisa menjenguknya di dalam"

Saat Bagas melangkahkan kaki ke ruangan tersebut ia pasti sudah dapat mengira.

"Maafin aku udah ngerepotin kamu yang lagi di bogor ya, maaf banget"

Bagas tersenyum sambil menghapus air matanya.

"kok nangis? eh ya, anak kita mana sayang? Chila mana? Pasti kiatnya mirip dengan kamu. Wah"celoteh Chelsea.

Bagas terdiam, "Mamaa!!!"

Thalita berlari memeluk sang ibu yang terbaring lemah.

"Thalita sayang, maafin mama belum gantiin baju kamu ya. Maaf banget, oh ya, Chila mana sayang? pasti cantiknya mirip kamu"

Thalita menangis dipelukan sang ibu.

"kamu kok nangis?"

"Chels? Kamu baik-baik aja kan?" Tissa berjalan mendekatinya.

Chelsea tersenyum, "baik kok Tiss. Maafin gue belum bilang terimakasih udah jemput Thalita ya. ehm Chila mana? anak gue mana? pasti baiknya mirip lo deh. hehe"

Tissa berusaha untuk tegar di hadapan sahabatnya.

"kalian kok nangis?"

ΠΠΠ

Dear cintaku, Chilla Terri Saputra

Maaf ....

Maaf sayang...

Maafin mama...

Karena mama, kamu belum sempat melihat dunia ini.

Maaf karena mama yang buat kamu belum sempat melihat papa dan kak Thalita...

Maaf karena mama yang buat kamu enggan untuk kembali ke dunia mama...

Maaf karena mama yang buat kamu terluka...

Mama berharap kamu menjadi kertas putih di surga sana.

Mama berharap kamu bahagia melihat mama, papa, dan kak Thalita dari sana...

Mama janji tidak menangis lagi untuk kamu...

Kamu yang mama harapkan adalah maafkan segala kesalahan mama sewaktu mengandung kamu...

Maafkan mama, mama hanya ingin kamu di surga sana

Selamat tinggal sayang, kami selalu mencintaimu,

Chelsea Terriyanto

Chelsea menyelipkan selembar kertas di atas makam yang bertulis, Chila Terri Saputra.

You are our hearts. Where you at this time, we will always love you. Good bye dear~

TBC

"FanFiction ini dibuat guna mengikuti event menulis dengan tema 'When They Become Parents' yang juga diikuti beberapa penulis lainnya."

Thanks before kak Bita😘💞

Tidak ada komentar:

Posting Komentar