Jumat, 29 Mei 2015

Be My Baby #4

Be My Baby Chap4

×××

"Waktu lo tinggal dua bulan lagi Chelsea."

Chelsea terpaku diam. Peringatan Misel padanya masih membekas.

---
"Bytheway, gue punya satu tantangan lagi buat lo. Kalo lo berhasil, gue bakal beneran mau jadi babu lo selama 2 bulan"

"Apa darl? Kalo cita cita lo emang jadi babu, udah lah... Gak usah malu" .

"Berisik lo!"sergahnya.

"Gue mau, lo jadian, sama anak pak Airlangga, dan dia akan jadi mantan lo ke 26. Dalam hubungan itu, lo juga harus jadian sama Karel, sahabatnya. Putuskan Karel terlebih dahulu dan jadikan dia mantan lo yang ke 25. Karel 24 jam, Bagas sejam. Bagaimana?"

Chelsea langsung menjabat tangan Misel, menyetujuinya.

"Dalam waktu?"

"3 bulan."

"Gak terlalu lama tuh?"

"Coba aja kalo lo bisa. Makin cepet juga makin bagus!"

Chelsea tersenyum ketika punggung Misel menjauh darinya.

---

Perempuan itu bingung. Apa yang harus diperbuatnya?

Haruskah kelakuan itu kembali?

×××

Chelsea berjalan mendekati Bagas yang tengah menyalakan ninja putihnya.

"Gas"

Bagas mendesis, "apa?"

Sebelum ia melirik ke belakang kalau itu Chelsea, Bagas juga tahu kalau itu perempuan tersebut.

"Anterin gue pulang ya? Plis"

Bagas menggeleng, "nggak bisa. Gue mau jemput adik gue"

"Lo punya adik?"

"Gak usah kepo sama urusan gue"

Bagas menyalakan mesinnya dan meninggalkan Chelsea yang terdiam ditempat.

"Tuh anak emang susah banget di deketin dah!"

Karel yang sedari tadi di belakangnya bersungut kecewa, "kamu suka sama Bagas Chels?"

Chelsea tersentak, lalu menoleh, "enggak kok. Siapa bilang"

"Tuh kamu minta anterin dia."

"Uang aku ketinggalan, terus aku liat dia, minta tolong anterin, eh dianya gak mau."

"Ayo!" Karel tersenyum tipis, lalu menarik tangan Chelsea ke mobilnya.

"Gak habis bensin lagi kan? Haha"

Karel nyengir, "tenang aja."

×××

Macet dijalanan ibukota memang sudah biasa jam jam segini. Imbasnya malah ke Chelsea dan Karel yang menduduki mobil dikawasan macet seperti ini.

"Chels"

"Ya?"

"Kamu gak mainin perasaan cowok lagi kan?"

'DEG'

Chelsea melirik ke arah Karel. Sedikit tersinggung atas ucapannya.

"Eh maaf. I want to say something to you. Boleh?"

Chelsea mengangguk pelan, "silahkan"

Karel memejamkan matanya, tetap tenang, dan pasrah.

"Kamu mau gak jadi pacarku?"

'TETTTTTTT'

Mobil belakang menghidupkan klakson dengan kuat. Menandakan lampu hijau telah menyala.

Dengan cepat Karel menghidupkan mesin kembali.

Chelsea masih terdiam memikirkan apa yang harus dijawabnya ketika Karel menagih jawabannya.

"What's your ans?"

"I need the time."

" No problem, it's okay "

×××

Bagas mengambil gitarnya. Malam malam kelam begini enaknya nyanyi nyanyi sendiri.

Tiba tiba saja pikirannya sampai ke perempuan itu.

Dari gerak geriknya, Bagas mulai menerka nerka.

' Gak mungkin ah... '

Pikirannya malah mengacau. Mana mungkin Chelsea suka padanya.

Enggak enggak.

Gak mungkin,

'Ah elah Gas, lo terlalu ngayal tau gak'

×××

Karel udah menyatakan cintanya pada Chelsea.

Sedangkan Bagas tak ada memberi kode sama sekali padanya.

Pikiran Chelsea masih pada Bagas. Bagaimana caranya...

Misel menyuruhnya agar benar benar 'play two'.

Chelsea masih takut.

Ia takut ia harus malu lagi.

Bagaimana?

×××

"Gas gue digantung"tutur Karel saat mereka tengah makan siang dikantin sekolahan.

Bagas mendelik, "digantung sama?"

"Chelsea."

Bagas memucratkan isi mulutnya keluar.

Karel menberinya segelas air putih padanya disertakan tepukan punggung dgn pelan.

"Kenapa sih lo?"

"Lo udah nembak Chelsea?"

"Udah."

"Kapan?"

"Semalem"

Bagas menelan ludahnya,

"Btw makasih ya, lo udah nolak permintaan dia buat nganterin dia pulang."

Bagas terdiam, alisnya naik, menandakan kata 'Ya'.

×××

'Drrrt'

Bagas merogoh ponselnya yang bergetar disakunya.

New One Message

From : 08**********

Lo mau gak nganterin gue beliin kado buat Karel yang bakal ultah dua minggu lagi?

- Chelsea

Bagas mengangkat alisnya. Bukan karena maksud perempuan ini memberinya sebuah pesan singkat. Namun..

Bagas tersentak sedikit ketika seorang perempuan menabrak tubuhnya secara tak sengaja. Bagas mendelikkan matanya ketika melihat Chelsea yang sok sibuk dengan mengangkat ponselnya ke atas, mencari sinyal sepertinya.

"Ngapain sih lo? Sok sibuk tau gak"ketus Bagas.

Chelsea menarik sisi pipi kanannya,

"Gak ada sinyal. Pesan gue masuk gak?"

"Gak ada sinyal? Banyak alesan. Emang lo ada ng-SMS gue? Gak masuk tuh"imbuh Bagas acuh.

"Serius gak masuk pesannya? Perasaan udah terkirim, apa gue salah nomor ya. Sinyal lo kali yang gak ada. Tadi ada tuh"balas Chelsea.

"Ketahuan kan lo! Emang sok sibuk. Caper sama gue bilang aja"tawa Bagas. Matanya menyipit ke arah Chelsea.

Chelsea menelan ludahnya, "pede banget sih lo. Ih" Chelsea mendengus kesal.

"Emang lo mau beli kado buat apa sama Karel?"tanya Bagas sambil berjalan.

"Lo bohong juga kan sama gue? Masuk kan pesannya? Dasar sok ngartis"tuding Chelsea sambil memukul pelan lengan Bagas.

Bagas nyengir, "Lo suka sama dia ya? Kenapa gak lo terima? Kasian tuh anak orang digantungin"tutur Bagas.

Perkataan Bagas membuat langkah Chelsea terhenti.

"Udah deh, pokoknya ntar temenin gue beli kado ya"pekiknya sambil mencoel hidung Bagas lalu berlari meninggalkannya.

Bagas yang ditinggalkan terpaku, "Ah elah. Dia mana tau"

×××

"Gimana?"

Suara lembut mengalun ditelinga Chelsea yang tengah duduk diam dibangku taman menunggu Bagas.

"Gas, jadi kan?" Ia menoleh.

Karel menaikkan alisnya, "Ketahuan ya, lagi mikirin Bagas"

Chelsea menggeleng, "Enggak. Aku kirain emang suaranya. Suara kalian beda tipis"

Karel tertawa kecil, "yasudahlah. Pulang bareng yuk? Terus gimana jawaban kamu?"

"Aa--"

"Woi Bro!" Bagas datang dan menepuk pundak Karel.

"Lo lagi dipikirin Chelsea gas,"imbuh Karel acuh.

Chelsea menautkan alisnya, "Apaansih. Engga ah"ketus Karel. Nih anak makin lama makin kayak kampret deh.

"Ah elah, nanti lo yang dipikirin,"balas Bagas. Karel mengangkat bahunya sambil melirik Chelsea dan Bagas.

"Btw ngapa lo disini?"tanya Karel. Bagas berdekhem, "jadi gak boleh?"

Karel tertawa ringan, "gue pulang bareng Chelsea dulu ya gas,"

Sebelum tangan itu merangkul tubuh perempuan diantara keduanya, Bagas melepas tangan tersebut.

"Gak muhrim, ada ada aja lo"cibir Bagas pelan.

Karel tertawa, Chelsea langsung menepis tangan lelaki itu, "Hari ini aku gak bisa pulang cepat. Ada yang harus diberesin nih, Hehe"

Karel terpaku sejenak. Alisnya mulai mengarah ke arah Bagas, mendeliknya sedikit. Maksud tajam itu,

"Lo pulang deluan aja kali. Tenang aja lo mah. Dia bakal nerima lo, ya kan?" senggol Bagas ke pinggang Chelsea. Mata perempuam itu memicing jelas ke arahnya, "Oke deh, Dah. Hati hati ya"tutur Karel pelan pada perempuan itu.

Bagas menatap punggung karibnya, lalu melirik sekilas ke arah Chelsea.

ToBeContinued

Rabu, 20 Mei 2015

Be My Baby #3

Be My Baby Chap3

×××

[Chap 2]

"Rumah gue bukan lewat jalan ini. Sotoy banget sih lo"

"Lo tuh yang sotoy. Udah berapa tahun sih lo disini? Sampe jalan tikut aja lo gak tau? Kalo lewat sini, lo mau sampe jam 5? Macet keles!"

Chelsea terdiam mendengar ocehan Bagas.

"Emang lo tau rumah gue?" dahinya berkerut.

"Taa-- gue tau dari Clement"

"Ooh" Chelsea tersenyum kecut. Ia merenggangkan pegangannya pada pinggang Bagas.

"Lo pegang kuat apa gue ngerem?"

Nih cowok sksd banget sih. Kelihatannya cuek banget, taunya🔤

"Rumah gue disana"

Shittttttttt

Bagas mengerem mendadak sebelum sampai rumah Chelsea.

Chelsea sampai terpelanting kalo tidak sempat Bagas memegang kedua tangan Chelsea di depan perutnya.

"Lo orang ternekad yang pernah ada ya!! Lo gak tau kalo misalnya gue kebanting jatoh?!"

Jantungnya berdebar. Dengan cepat ia menghela nafasnya.

"Tuh ada polisi tidur, gue gak liat"

'Plok'

Chelsea memukul kuat punggung Bagas, "gue turun. Bhay!!"

×××

Be My Baby Chap3

Melihat Chelsea turun dari ninjanya, Bagas menoleh.

"By the way, lo udah putus sama Clement?"

Chelsea menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap ke arah Bagas.

"Buka urusan lo!"

Bagas terdiam lalu menaikkan kedua alisnya, It's Okay.

Matanya menatap punggung perempuan itu.

×××

Sedari tadi, Chelsea hanya bisa mondar mandir. Sedangkan jam menunjukkan pukul 21.20 WIB. Gadis itu belum bisa tenang.

Hari ini tepat ia empat hari dengan Clement.

Sekarang apa besok?

Chelsea menggigit bibir bawahnya.

Setelah berpikir berulang ulang, Chelsea menghempaskan tubuhnya dikasur. Tangannya meraba ponselnya yang berada di dekat bantal.

Malam ini.


To : Clement

Ko, kita putus.

×××

Chelsea benar benar tidak bisa tenang. Dari tadi ponselnya berdering keras. Kalau tidak di silent-kan, ia tak akan bisa tidur.

29 Missed Called from Clement.

10 New Message from Clement.

Chelsea mematikan ponselnya. Ia harus bisa tidur sekarang.

×××

Chelsea keluar dari mobilnya. Menyandang tas ranselnya dibahu. Kacamata hitamnya ia buka ditengah saat ia berjalan.
Biasa, matanya sedikit risih dengan beberapa pandangan yang ditujukan padanya.

"Tunggu!"

Tiba tiba sebuah tangan mencekat lengannya dengan kasar.

Chelsea menoleh dan menatap malas sosok lelaki di depannya.

"Tolong jelasin apa maksud kamu semalam"

Chelsea tertawa kecil, "Memangnya salah kalau aku bilang putus?"

Tangan itu ditahan oleh Karel. Jika Karel tidak ada, tangan Clement sudah mendarat di pipi Chelsea.

"Dasar Banci! Beraninya sama cewek!"teriak Karel. Sekali hempasan, Clement tersungkur di koridor sekolah.

Dengan cepat Clement bangkit dan menatap sinis Chelsea, "Lo siapa? Mau sok sok-an jadi pahlawan kesiangan buat dia?"

Chelsea menghela nafasnya, "Apaan sih lo berdua"

"Ooh gue tau, lo gebetan baru Chelsea? Gue cuma peringatin aja sama lo, hati hati sama dia ya. Hubungan lo gak bakal bertahan lama. Dia cuma mainin perasaan lo aja. Gue sebenarnya gak nyangka, zaman sekarang masih ada cewek playgirl. Setau gue adanya playboy kali ya. Ternyata gue salah. Awalnya aja manis, tapi semuanya basi. Dan gue harap, lo gak jadi mantannya yang ke 25,"

Chelsea menelan ludahnya, "Dasar banci!! Terserah lo deh, mau nganggap gue apa. Yang jelas gue nyesel pernah pacaran sama lo!"

Karel mendaratkan pukulannya pada Clement.

"Gue gak peduli, lo senior gue kek. Lo gak nyadar, ngapain lo mau sama dia kalo lo tau seluk beluknya Chelsea? Dasar banci. Lo bisa aja dituduh ke bp, alasan pencemaran nama baik!"

Clement mengusap bibirnya yang sedikit luka. Sebelum dia hendak membalas pukulan pada Karel, Bagas datang dan menghadangnya.

Pukulan keras yang sudah diniatkan itu tak dapat ditarik lagi. Kepalan itu mendarat ke perut Bagas.

"Bagas" Chelsea membulatkan matanya. Semua terdiam.

"Udah puas kalian berantem?" Bagas meringis pelan, menahan perihnya pukulan yang ia dapat.

Chelsea maju membantu Bagas untuk berdiri.

"Gak usah!"

Chelsea terdiam. Awalnya ia ingin membantu Bagas lagi, namun Bagas dapat bangkit sendiri.

"Gue disini wakil murid. Semua murid yang bermasalah, yang tanganin gue. Kalian itu sahabat gue, kenapa mesti karna cewek kalian mau dapat skors sebulan?"

Bagas memicing matanya pada Chelsea, "bagusan lo out dari sini! Ini semua juga karena lo"

Chelsea terdiam, menelan ludahnya.

"Masuk! Lo masuk, atau lo ikut ke BP?!"

Chelsea terdiam, dengan pelan ia berbalik badan meninggalkan mereka semua. Tatapan semua anak anak yang mengelilingi mereka berempat beralih pada Chelsea.

"Derita cewek yang kerjanya mainin perasaan cowok ya begitu deh!!!"teriak Misel ditengah tengah kerumunan.

"Huuuuuuuuuuuuuu"

Chelsea menunduk.

"Beneran gak nyangka"

"Is gila. Cewek cantik begitu taunya"

"Awal manis tapi akhirnya pahit!"

"Ckckck"

×××

Chelsea menangis terisak di pelukan Marsha.

"Gue malu banget Sha. Sumpah!"

Marsha mengusap bahu Chelsea, "Lo juga harus nerima konsekuen dari apa yang lo buat Chel. Karena tuhan itu adil. Yang pasti ini jadi pembelajaran aja buat lho"

Chelsea terdiam. Baru kali ini ada mantannya yang berlagak seperti itu. Ia mengira bahwa Clement adalah orang yang mudah ditipu. Pembawaannya yang kalem, membuat Chelsea semakin berdaliksimpati padanya. Apalagi, dia anak baru disini, jadi dia belum tau pasti selukbeluk Chelsea.

"Ini"

Bagas berjalan menghampirinya dikelas.

"Ini apa gas?"tanya Marsha.

"Baca aja"

Chelsea melirik wajah Bagas yang sedikitpun tidak mau mengarah padanya.

"Buat?"

"Baca dulu aja."

Dengan ragu, Marsha membuka sebuah surat tersebut.

Chelsea memperhatikan raut wajah Marsha.

Gadia itu melirik takut ke arah Chelsea,

"Apa Sha?"

Marsha menyodorkan surat tersebut pada Chelsea.

"Gue diskors?"

Bibirnya masih tersenyum.

"Gue bawa nama temen lo Sha. Karena emang dia penyebab pertengkaran tadi kan. Mau disembunyiin juga gak bisa, semua anak juga tau ini ulahnya"

Chelsea mengangguk pasrah.

"It's Okay"

×××

Chelsea terima terima aja, dia mau diskors apa tidak. Dia juga gak ada yang meduliin. Mami papinya udah meninggal, dan Chelsea tinggal dirumah warisan kedua orangtuanya yang besar.

Untung dia masih mempunyai si mbok yang memang dikenalnya dari kecil dan mamang satpam kenalan papinya dari dulu, jadi ia tak merasa sendirian hidup.

"Mbok, Chelsea diskors "

Mbok Inem tersenyum, "kok bisa non? Bukannya non Chelsea itu murid yang paling baik dikelas" seorang mbok yang tau liku hidup Chelsea, hanya memberi kata positif saja padanya.

"Chelsea udah bikin anak orang babak belur"

"Memangnya non Chelsea jago berantem?"

"Bukan mbok. Chelsea yang bikin, dua anak orang berantem sampe babak belur"

"Memangnya apa yang non Chelsea buat?"

"Banyak mbok."

"Banyak gimana?"

"Chelsea udah mainin perasaan cowok."

"Non Chelsea udah besar ya sekarang. Pasti papi mami seneng banget, non Chelsea udah tumbuh kayak begini"

Chelsea menaikkan kedua alisnya.

Bingung

×××

"Halo. Apa kabar lo selama lima hari ini gak masuk sekolah?"

"Baik. Gue bantu bantu mbok. Beresin rumah. Gimana keadaan sekolah?"

"Biasa aja. By the way, kita jenguk ko Clement yuk"

"Enggak ah. Gue muak sama dia"

"Lah, gak boleh gitu. Katanya lo mau nerima konsekuennya"

Chelsea terdiam, lalu mengangguk. "I want to say something"

"Jangan bilang lo mau nembak dia"

Chelsea tertawa kecil, "kampret ah!!"

×××

Marsha dan Chelsea menekan bel rumah Clement.

Sebuah ninja putih mangkir di depan garasinya.

Seorang wanita setengah paruh baya membuka kan pintu, "Nyari siapa nak?"

"Ko Clementnya ada tan?"

Wanita muda itu mengangguk, "ayo masuk!"

×××

Chelsea menginjakkan kakinya dilantai rumah Clement.

Matanya langsung melirik ke arah dua orang lelaki yang sedang duduk antusias sambil memegang stik dan menghadap ke arah televisi besar

"Halo"sapa Marsha.

Chelsea tersenyum takut ketika keduanya melirik ke arah mereka.

"Eh lo Sha."tutur Clement.

"Sama Chelsea"sambung Bagas acuh.

"Kalian kenapa sih masih dingin aja sama Chelsea?"tukas Marsha.

"Udah besar mainannya playstation."gumam Chelsea.

"Enggak kok. Halo Chels"sapa Clement.

Chelsea memekik, "hai"

"Maafin gue ya ko. Gara gara gue, lo kaya gitu."

Clement tersenyum tipis, "Never mind. Koko Rapopo"

Chelsea dan Marsha tertawa kecil.

"Eh ya btw gimana keadaan sekolah? Chels, kamu gak kangen nih sama wakil murid yang udah nggunggah waktu skors kamu. Yang berani jamin ke kepsek, yang percepat waktu skorsan kamu, yang tadinya sebulan jadi dua minggu, yang dua minggu jadi seminggu, yang seminggu jadi empat hari?"

Chelsea memicingkan matanya, "maksudnya?"

"Eh koko kampret!!" Bagas membelalakkan matanya. Dengan cepat ia mempercepat stamina permainannya hingga berbunyi, 'Clement, you Lose'

Clement mendesis, "lo gak mau nembak nih orang Chels?"

Chelsea menelan ludahnya.

×××

ToBeContinuedGuys😊

Selasa, 12 Mei 2015

Be My Baby #2

Be My Baby Chap2

Author By : Alya N. Jambak

×××

Langit masih cerah. Seolah rembulan belum mau berganti tugas dengan si mentari. Chelsea melirik ke arah luar dari balik kaca pembatas sebuah kedai kopi. Tatapannya kosong, namun otaknya sedang berjalan.

Dihadapannya duduk manis seorang lelaki usia sedikit diatasnya, pelataran berbeda dua tahunan.

Menyadari keheningan yang terjadi pada mereka, lelaki yang dipanggilnya 'Koko' itu mulai membuka mulut.

"Ekhem"
Mungkin sekedar basa basi saja.

Chelsea tersentak dari lamunannya. Dengan cepat ia meneguk kopi hangat di depannya.

"Chel,"

Seusai meneguk minuman  yang sebenarnya sebagai jawaban dari 'basi basi' Clement, Chelsea menyondongkan dagunya.

"Hemh?"

"Aku mau nanya sesuatu sama kamu Chel"

Chelsea menaikkan kedua alisnya. Saatnya ia beraksi. Tak mau menerima pembalasan nantinya.

"Tapi sebelumnya, aku mau bilang sesuatu sama kamu, ko"

"Ap-pa?"

Clement tersenyum kecut.

Chelsea tetap tenang dalam keadaanya. Ia menatap manik mata Clement. Siapkah dia untuk

"Eh Bro!!"

Chelsea menoleh ketika mendengar seruan dari belakangnya.

"Eh Gas! Tumben lo kesini!" Clement bangkit lalu menyapa seorang lelaki yang dipanggil 'Bagas' oleh Clement.

Mata Chelsea memicing, "Gas? Bagas? Anaknya pak Angga itu ya?"gumamnya pelan.

Chelsea bangkit dan ikut memberi sapaan pada Bagas.

"Halo" Chelsea siap memulai rencana yang baru muncul dari otaknya.

Bagas tersenyum acuh, "Halo"

Tangan Chelsea menjalar di hadapannya, "Chelsea"

Bagas semakin memperlebar senyum acuhnya tanpa membalas juluran tangan Chelsea, "Bagas"

Chelsea menelan ludahnya. Clement tau bagaimana malunya Chelsea tepat dihadapannya. Sebelum Chelsea memundurkan tangannya, Clement meraih tangan Bagas, lalu menyalamkannya pada Chelsea.

"Bagas memang begitu orangnya sayang"

Chelsea tersenyum kecut, "It's okay"

"Kenalin Gas, ini cewek gue. Cantik kan?"

"Cantik yah. Sayangnya..."

"Sayangnya udah gue dapetin. Hehe"

Chelsea membuang mukanya.

×××

Tidak seperti dugaan Chelsea. Cowok yang menjadi tantangan Misel itu membuat Chelsea tak bisa tidur.

Memikirkan bagaimana bisa mendapatkannya. Bersalaman saja sudah cukup membuatnya malu!

Bagaimana jika mengejarnya nanti?

Ah. Yang ditantang Misel itu dua orang. Satu dulu kan bisa..

Karel! Yap

Tangan Chelsea mulai menari diatas keypad ponselnya. Mencari username Karel dari twitter.

"Bagus deh, dia udah follow gue. Tingga follback"

Chelsea menekan kata 'Follow' di screen ponselnya.

Okey, started!

×××

' Agatha Chelsea followed you '

Mata jebe membelalak seketika. Karel mengucek matanya ketika mendapat notification dari akun twitternya.

Basa basi sekarang juga boleh!

Senyumnya melebar sepanjang jalan tol amplas Medan.

Dengan cepat Karel membuka direct messagenya. Mengetik username Chelsea.

@KarelJB

Thanku udah followback😊

Lelaki berwajah sedikit babyface itu membaringkan tubuhnya, menunggu balasan dari pujaan hatinya.

Tak sampai lima menit, ponselnya bergetar.

@AgathaChelsea

Urwell,  maaf baru ngefollback ya 😊

Karel hampir jatuh dari tempat tidurnya.

@KarelJB

Iya nevermind cantik 😊 kamu lagi apa nih?

Eaaaaaaaaaaaa

×××

@KarelJB

Iya nevermind cantik 😊 kamu lagi apa nih?

Chelsea tertawa kecil,

@AgathaChelsea

Lho aku gak cantik😩. Lagi mikirin seseorang nih. Kalo kamu? Btw kamu anak Basket kan?

Baru tiga puluh detik dikirim, Karel sudah membalasnya.

@KarelJB

Kamu cantik lho👌makanya banyak yg mau jadi cowo kamu. Siapa tuh seseorangnya?😁 Aku lagi ngefly nih🐥 iya aku anak basket.

@AgathaChelsea

Gak kok 😊 ada deh. Ngefly kenapa? Okey

@KarelJB

Bagiku kamu cantik👌 ngfly gatau kenapa hehe. Btw Clement itu pacar kamu ya?

@AgathaChelsea

Thanku❤ Tp udah mau putus. Emangnya kenapa?

@KarelJB

Ok. What? Kok bisa? Gapapasih 😂

@AgathaChelsea

Aku sedikit gak nyaman pacaran sama orang yang lebih tua dr aku gitu. Terus aku udah gak ada rasa apa apa lagi sama dia

×××

@KarelJB

Demi apah god?

-2 Secon ago.

Bagas menautkan kedua alisnya. Melihat tweet Karel di akun twitternya.

Dengan cepat ia mengutip tweet tersebut.

"Lo kenapa bro? RT" @KarelJB : Demi apah god? " "

@KarelJB

@bagasrds gak papa. Lo dtg kerumah gue gih, ada yg mau gue kasihtau sama lo. Penting bro

×××

Bagas membuka pintu kamar Karel, yang sebelumnya sudah diperbolehkan oleh maminya, yang tak asing lagi bagi Bagas.

"Chelsea nerima PDKT gue!"teriak Karel begitu Bagas masuk ke kamarnya.

Bagas terdiam melihat tingkah anak itu. Berlompat lompat diatas kasurnya. Dasar childish

"Lo cowok apa cewek sih?"

Melihat picingan mata Bagas, Karel tersenyum sesekali nyengir.

"Namanya gue lagi seneng"

"Jadi tweet lo itu buat Chelsea? Kalo buat Chelsea, kenapa gak lo tag aja usernamenya?"

Entah kenapa lelaki itu menjadi sentimen padanya. Perkataannya tadi terdengar begitu  serius.

"Lo kok kayak sinis gitu bro? Lo gak iri kan sama gue?"

Bagas makin memicingkan matanya, "gue balik ya"

×××

"Kelas berapa?" Chelsea menyondongkan dagunya.

"Kelas XI Ipa 1. Mereka berdua sekelas"

Chelsea terdiam sejenak, "gue kok baru tau ya, wkawka. Btw thankyou infonya ya Sha. Lo mau nemenin gue ke kelas itu gak?"

"Kelas mana? Kelas Bagas sama Karel?" Mata Marsha membulat.

"Iya. Eh setau gue juga, Rafli disitu kan? Nah sekalian ngapel lo. Gue cuma basa basi doang kok."

"Ah gue malu. Nyapa dia aja gue takut"

"Lo gak ada romantis-romantisanya ya. Sekali kali pulang bareng kek. Ini enggak. Taunya main sayang sayangan cuma di sosmed doang."

"Seengaknya gue pernah video-call"balas Marsha kesal

"Taudeh ah. Ayo yuk, cepetan!" Chelsea menarik lengan sahabatnya itu.

×××

Pintu kelas XI- Ipa 1 tertutup. Pasti pada ribut dikelas.

Chelsea mengetuk pintunya.

Seorang lelaki menyembul, "eh ada Chelsea. Ngapain nih? Tumben..."

Chelsea malas mendengar basa basi Corl, mantannya dulu.

"Ada Rafli gak?"

"Rafli? Ada kok."

"Sebelumnya kita berdua boleh masuk gak?"

"Boleh boleh" Corl membuka lebar pinty kelasnya, lalu mempersilahkan Chelsea dan Marsha masuk.

Sepasang mata memicing, "ngapain lo disini?"

Chelsea menoleh, "Misel?" sejak kapan tuh anak curut anak 11 A?

"Lo sendiri ngapain?"

"Gue anak XI-Ipa 1 Chelsea sayang😌"

"Bukannya lo anak XI-Ipa 12?" Mata Chelsea memicing.

"Gue pindah. Emangnya kenapa? Lo gak suka?"

Chelsea tersenyum ketika dua orang lelaki baru masuk ke dalam kelasnya tepat di belakang Misel.

"Eh Hai!!"

Chelsea melambaikan tangannya membalas sapaan Karel. Sedangkan lelaki disampingnya bersikap acuh.

"Tumben kesini..."

"Oiya. Nih Marsha nyari Rafli nih"

Marsha melotot, "Kok gue lagi?"

"Rafli!!" Karel menyahut.

Lelaki itu tengah mendengarkan lagu melalui earphonennya.

"Raf lo dicariin Marsha. Mau ngajak lo pulang bareng. Mau gak?"imbuh Chelsea.

Marsha yang tak tau apa apa langsung melotot pada Chelsea. Dia kan jadi salting♉

Rafli tersenyum diposisi duduknya. "Boleh"teriaknya.

Chelsea tertawa kecil ketika Marsha menariknya keluar dari kelas. "Kampret!!"

"Thankyou yah" Pintu tertutup keras setelah kepergian mereka berdua.

×××

Marsha pasrah mengikuti apa kata Chelsea. "Kita tunggu disini aja. Bentar lagi doi lo juga bakal dateng"

Chelsea menatap jejeran motor maupun mobil diparkiran sekolahnya.

"Hampir semua tuh kendaraan pernah gue naiki wkawka"

"Yaiyalah, playgirl akut kaya lo"

Chelsea nyengir, "tenang aja sha. Rafli gak bakal gue rebut kok👌"

Lima lelaki  berlari mendatangi parkiran. Baju mereka basah, 100% pasti karena dihukum pak Ubay.

"Raf, lo kena hukum?"tanya Chelsea.

Rafli menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Malulah pasti. Kenapa Chelsea mesti nanya di depan Marsha.

Ia cuma nyengir pelan.

"Lo juga Rel? Kok bisa? Wkawka"ledek Chelsea.

Karel menelan ludahnya. RT Rafli lah. 'Malu harus ngejawabnya'

Tiga selain Rafli dan Karel telah pulang duluan meninggalkan mereka.

"Jadi Sha?" pertama kalinya Chelsea mendengar Rafli ngomong secara langsung sama Marsha sejak mereka jadian lima bulan yang lalu.

Marsha menatap Chelsea.

"jadi dong sha. Masa iya lo gak jadi pulang bareng sama doi lo?"tambah Karel.

Chelsea mengangguk menyetujui.

Marsha terdiam sebentar lalu mengangguk malu.

"Ntar ya. Aku ngambil motor dulu"

Yeshh

Ini Karel Time⏰

Tak lama kemudian, pasangan kekasih itu meninggalkan Chelsea dan Karel yang masih diparkiran.

"Nah, Marsha udah pulang. Gue duluan ya Rel"

Karel menahan tangan Chelsea, "mau ikut gue gak?"

Perempuan itu menatap tangan Karel yang menahannya.

"Lo belum pulang juga Rel?" Sebuah suara memecah hening, membuat Karel melepas tahanan tangannya pada Chelsea.

"Iya ini gue mau pulang."

"Sendiri?" Bagas menautkan kedua alisnya.

"Nganter Chelsea dulu"

"Tadi gue minta nebeng lo, katanya bensin mobil lo habis. Kata lo, lo takut gue bakal ngedorong. Gimana tuh?"

"Oiya!!!" Karel menepuk dahinya kuat.

"Tenang aja. Gue udah nelpon mang oji buat dateng bawain bensin. Dan alhamdulillah, motor gue dah bisa dinyalain. Gue duluan apa enggak?"

Chelsea menggigit bibir bawahnya.

"Lo anterin Chelsea bisa gak?"

Shritttttt

Bagas melirik Chelsea.

"Gue takut bawa cewek. "

"Ah elah. Alesan lo aja"

"Bisa gak ya? Bagas, otaklo jalan!" pekik Bagas.

Chelsea mendengus kesal.

"Terserah deh"

Bagas mengambil motor ninjanya, lalu menaiki dan menyalakan mesinnya.

"Lo mau ikut sama gue?"tanya Bagas acuh.

"Terserah sih"

"Yaudah naik. Pake nih" Bagas membuka helm cadangannya lalu memasukkannya ke dalam kepala Chelsea.

"Keknya lo cantik kalo pake helm"celetuknya acuh.

Chelsea tersenyum kecil. Berusaha untuk tidak menyadarkan Bagas kalau ia tersenyum.

"Gak usah pake senyum. Naik lo"

Chelsea menaiki ninja tersebut, lalu berpamitan pada Karel.

"Duluan ya Rel"

Lelaki itu tertunduk lesu, "yes"

×××

"Rumah gue bukan lewat jalan ini. Sotoy banget sih lo"

"Lo tuh yang sotoy. Udah berapa tahun sih lo disini? Sampe jalan tikut aja lo gak tau? Kalo lewat sini, lo mau sampe jam 5? Macet keles!"

Chelsea terdiam mendengar ocehan Bagas.

"Emang lo tau rumah gue?" dahinya berkerut.

"Taa-- gue tau dari Clement"

"Ooh" Chelsea tersenyum kecut. Ia merenggangkan pegangannya pada pinggang Bagas.

"Lo pegang kuat apa gue ngerem?"

Nih cowok sksd banget sih. Kelihatannya cuek banget, taunya🔤

"Rumah gue disana"

Shittttttttt

Bagas mengerem mendadak sebelum sampai rumah Chelsea.

Chelsea sampai terpelanting kalo tidak sempat Bagas memegang kedua tangan Chelsea di depan perutnya.

"Lo orang ternekad yang pernah ada ya!! Lo gak tau kalo misalnya gue kebanting jatoh?!"

Jantungnya berdebar. Dengan cepat ia menghela nafasnya.

"Tuh ada polisi tidur, gue gak liat"

'Plok'

Chelsea memukul kuat punggung Bagas, "gue turun. Bhay!!"

×××

















Sabtu, 09 Mei 2015

Be My Baby #1

Be My Baby Chap1

By : Alya Nirmala

×××

Semua mata melentik ke arahnya. Membulat tak percaya, berkedip seolah muncul clip loves. Pandangan mereka seolah tak dapat putus dari perempuan itu. Seragam sekolah yang modis, sesuai dengan postur tubuh ideal, membentuk tubuhnya dengan  bagus. Rambutnya digerai indah, menjuntai hingga setengah dari pinggangnya. Tangannya membuka perlahan kacamata hitamnya yang digunakannya selama menaiki ferari putihnya.

Matanya menyipit dan tersenyum ketika seorang lelaki menantinya di depan pintu kelas. Diantara kumpulan orang yang melihatinya sedaritadi, yang 93% adalah kaum adam.

"Halo"ucapnya pelan kepada lelaki itu.

"Hai Darl..."sapa lelaki itu balik. Rekahan bibirnya tak kunjung menciut sejak keberadaan perempuan itu di dekatnya.

×××

"Udah punya cowok"lapor Karel, lelaki berwajah keChinesse-Chinessean pada sohibnya yang tengah asik dengan buku yang dibacanya dikelas.

"Terus? Lo patah semangat gitu?" Bagas menoleh ke arah Karel, menautkan kedua alisnya.

Karel memperdalam raut wajahnya, lalu mengangkat bahunya.

"Ntar dicap 'PHO' gimana? Lagian lo bener bener gak tertarik sama tuh cewek?"

"Gue suka sama dia, tapi gak tertarik mau jadi cowok dia. Yaudah sih kalo lo emang gak mau yah, itu terserah lo. Lo tenang aja, gue gak bakal jadi penghalang kok buat lo. Lagian apa lo mau disakiti kayak bekas bekasnya?"

×××

"Kita ke kantin yuk Chel?" Clement mendatangi meja kekasihnya, Agatha Chelsea, perempuan berating tinggi di sekolah ini.

Chelsea menggeleng, "Gak mau ah. Aku mau disini aja ko. Lagian kalau koko mau ke kantin, silahkan."

Clemet berdecak pelan, "Ayo dong. Aku mau ngenalin kamu sama temen temen aku"

Celetukan sang kekasih membuat Chelsea tertawa besar, "Udahlah, koko tenang aja, siapa sih yang nggak kenal aku disini?" Senyuman perempuan itu berubah menjadi sedikit sinis.

Clement menautkan kedua alisnya, "Kalau Erick kamu kenal? Bryan?"

Chelsea berpikir sejenak, "Kalau Bryan, aku kenal. Banget. Kalau Erick, gak tau. Tapi aku yakin, dia kenal aku. Apalagi Bryan."

Clement menautkan kedua alisnya, "Okey. Tapi, well kamu gak laper? Katanya kantin disini enak enak cemilannya kan?"

Chelsea mengangguk. Matanya melirik ke samping, Marsha.

"Sha, lo mau ke kantin gak?" Cewek sipit itu menoleh lalu berucap, "Iya nih. Laper gue"

Chelsea tersenyum, "temenin koko ya? Plis"

Clement menyergah, "kok ke Marsha? Aku kan ngajak kamu darl"

"Aku lagi badmood. Nilai ulangan aku dibawah rata rata ko. Kamu ngerti ya?"ucapan itu terdengar seperti permohonan.

Marsha menghampirinya, "jadi gak ko?"

Chelsea mengangguk cepat, "sesama mata sipit harus ke kantin barengan. Btw aku ke perpus dulu ya. Bye"

×××

Chelsea tersenyum dari kaca perpustakaan yang menghadap ke arah halaman sekolah.

"Sebentar lagi mantan gue bertambah"

Awalnya manis rekahan perempuan itu, tak lama menjadi sebuah kesinisan.

"Gue bakal bisa ngalahin Misel. Yang gak ada apa apanya
dibandingin dengan Agatha Chelsea!"

"Sebentar lagi juga tuh anak dateng. Lama banget yah calon babu gue itu, haha"

Chelsea tertawa kecil. Dengan cepat ia asal mengambil salah satu buku di rak.

Berpura pura membaca, hingga perempuan yang bernama Misel itu datang.

"Lama banget sih lo!"tukas Chelsea ketika Misel datang setelah 15 dari kedatangannya.

"Biasalah, gue ada urusan sama antek gue. Yaudah, minta tagihan nama mantan lo yang udah lo dapat dalam jangka waktu 2 bulan."

"Ada 23. Semua itu gue pacari dalam waktu dua sampai tiga hari. Yang kebuka cuma yang sekolah disini aja, temen temen gue pas SD SMP pada LDR. Nih nama namanya. Sekarang, lo!"

" 23? Yakin lo? Dua atau tiga hari? Pasti lo main dua?"terka Misel sambil mengamati kertas itu.

"Pernah main 3" Senyumnya.

Misel menggenggam ponselnya, melirik kertas tersebut, sambil menelan ludah.

"Playgirl akut kaya gue mau dilawan. Hahaha. Kalo lo berapa?"

"7. Gue putusin dalam jangka waktu seminggu lebih"

Tawa besar tergelak dari mulut Chelsea. Ketika beberapa mata mulai menatapinya, ia mengecilkan suaranya.

"Lo udah dibawah gue banget, sayang"

Misel tersenyum remeh, "Kalaupun gue jadi babu lo, gue gak bakal mau. Tapi tenang, gue sportif, udah nyiapin dua babu pengganti gue, untuk jadi babu lo. Selama satu bulan"

Chelsea menyergah, "Enak banget lo! Perjanjian itu gak ada darl. Jadi lo siap siap aja ya, jadi babu gue, atau gue bakal nyebarin foto lo yang paling cantik itu disemua sosial media. Bagaimana?"

"Eh, iya. Plis jangan. Gue mau jadi babu lo. Iya iya"

Chelsea tersenyum puas. Dia emang gak ada apa apanya dibanding Chelsea.

"Bytheway, gue punya satu tantangan lagi buat lo. Kalo lo berhasil, gue bakal beneran mau jadi babu lo selama 2 bulan"

"Apa darl? Kalo cita cita lo emang jadi babu, udah lah... Gak usah malu"

"Berisik lo!"sergahnya.

"Gue mau, lo jadian, sama anak pak Airlangga, dan dia akan jadi mantan lo ke 26. Dalam hubungan itu, lo juga harus jadian sama Karel, sahabatnya. Putuskan Karel terlebih dahulu dan jadikan dia mantan lo yang ke 25. Karel 24 jam, Bagas sejam. Bagaimana?"

Chelsea langsung menjabat tangan Misel, menyetujuinya.

"Dalam waktu?"

"3 bulan."

"Gak terlalu lama tuh?"

"Coba aja kalo lo bisa. Makin cepet juga makin bagus!"

Chelsea tersenyum ketika punggung Misel menjauh darinya.

"I wait you babe"

×××

To Be Continued.

Btw Maaf yg udah nungguin Device. Devicenya saya stop, aku lupa alur 😂 btw Thankyou for reading and waiting guys😌👌😊