Jumat, 29 Mei 2015

Be My Baby #4

Be My Baby Chap4

×××

"Waktu lo tinggal dua bulan lagi Chelsea."

Chelsea terpaku diam. Peringatan Misel padanya masih membekas.

---
"Bytheway, gue punya satu tantangan lagi buat lo. Kalo lo berhasil, gue bakal beneran mau jadi babu lo selama 2 bulan"

"Apa darl? Kalo cita cita lo emang jadi babu, udah lah... Gak usah malu" .

"Berisik lo!"sergahnya.

"Gue mau, lo jadian, sama anak pak Airlangga, dan dia akan jadi mantan lo ke 26. Dalam hubungan itu, lo juga harus jadian sama Karel, sahabatnya. Putuskan Karel terlebih dahulu dan jadikan dia mantan lo yang ke 25. Karel 24 jam, Bagas sejam. Bagaimana?"

Chelsea langsung menjabat tangan Misel, menyetujuinya.

"Dalam waktu?"

"3 bulan."

"Gak terlalu lama tuh?"

"Coba aja kalo lo bisa. Makin cepet juga makin bagus!"

Chelsea tersenyum ketika punggung Misel menjauh darinya.

---

Perempuan itu bingung. Apa yang harus diperbuatnya?

Haruskah kelakuan itu kembali?

×××

Chelsea berjalan mendekati Bagas yang tengah menyalakan ninja putihnya.

"Gas"

Bagas mendesis, "apa?"

Sebelum ia melirik ke belakang kalau itu Chelsea, Bagas juga tahu kalau itu perempuan tersebut.

"Anterin gue pulang ya? Plis"

Bagas menggeleng, "nggak bisa. Gue mau jemput adik gue"

"Lo punya adik?"

"Gak usah kepo sama urusan gue"

Bagas menyalakan mesinnya dan meninggalkan Chelsea yang terdiam ditempat.

"Tuh anak emang susah banget di deketin dah!"

Karel yang sedari tadi di belakangnya bersungut kecewa, "kamu suka sama Bagas Chels?"

Chelsea tersentak, lalu menoleh, "enggak kok. Siapa bilang"

"Tuh kamu minta anterin dia."

"Uang aku ketinggalan, terus aku liat dia, minta tolong anterin, eh dianya gak mau."

"Ayo!" Karel tersenyum tipis, lalu menarik tangan Chelsea ke mobilnya.

"Gak habis bensin lagi kan? Haha"

Karel nyengir, "tenang aja."

×××

Macet dijalanan ibukota memang sudah biasa jam jam segini. Imbasnya malah ke Chelsea dan Karel yang menduduki mobil dikawasan macet seperti ini.

"Chels"

"Ya?"

"Kamu gak mainin perasaan cowok lagi kan?"

'DEG'

Chelsea melirik ke arah Karel. Sedikit tersinggung atas ucapannya.

"Eh maaf. I want to say something to you. Boleh?"

Chelsea mengangguk pelan, "silahkan"

Karel memejamkan matanya, tetap tenang, dan pasrah.

"Kamu mau gak jadi pacarku?"

'TETTTTTTT'

Mobil belakang menghidupkan klakson dengan kuat. Menandakan lampu hijau telah menyala.

Dengan cepat Karel menghidupkan mesin kembali.

Chelsea masih terdiam memikirkan apa yang harus dijawabnya ketika Karel menagih jawabannya.

"What's your ans?"

"I need the time."

" No problem, it's okay "

×××

Bagas mengambil gitarnya. Malam malam kelam begini enaknya nyanyi nyanyi sendiri.

Tiba tiba saja pikirannya sampai ke perempuan itu.

Dari gerak geriknya, Bagas mulai menerka nerka.

' Gak mungkin ah... '

Pikirannya malah mengacau. Mana mungkin Chelsea suka padanya.

Enggak enggak.

Gak mungkin,

'Ah elah Gas, lo terlalu ngayal tau gak'

×××

Karel udah menyatakan cintanya pada Chelsea.

Sedangkan Bagas tak ada memberi kode sama sekali padanya.

Pikiran Chelsea masih pada Bagas. Bagaimana caranya...

Misel menyuruhnya agar benar benar 'play two'.

Chelsea masih takut.

Ia takut ia harus malu lagi.

Bagaimana?

×××

"Gas gue digantung"tutur Karel saat mereka tengah makan siang dikantin sekolahan.

Bagas mendelik, "digantung sama?"

"Chelsea."

Bagas memucratkan isi mulutnya keluar.

Karel menberinya segelas air putih padanya disertakan tepukan punggung dgn pelan.

"Kenapa sih lo?"

"Lo udah nembak Chelsea?"

"Udah."

"Kapan?"

"Semalem"

Bagas menelan ludahnya,

"Btw makasih ya, lo udah nolak permintaan dia buat nganterin dia pulang."

Bagas terdiam, alisnya naik, menandakan kata 'Ya'.

×××

'Drrrt'

Bagas merogoh ponselnya yang bergetar disakunya.

New One Message

From : 08**********

Lo mau gak nganterin gue beliin kado buat Karel yang bakal ultah dua minggu lagi?

- Chelsea

Bagas mengangkat alisnya. Bukan karena maksud perempuan ini memberinya sebuah pesan singkat. Namun..

Bagas tersentak sedikit ketika seorang perempuan menabrak tubuhnya secara tak sengaja. Bagas mendelikkan matanya ketika melihat Chelsea yang sok sibuk dengan mengangkat ponselnya ke atas, mencari sinyal sepertinya.

"Ngapain sih lo? Sok sibuk tau gak"ketus Bagas.

Chelsea menarik sisi pipi kanannya,

"Gak ada sinyal. Pesan gue masuk gak?"

"Gak ada sinyal? Banyak alesan. Emang lo ada ng-SMS gue? Gak masuk tuh"imbuh Bagas acuh.

"Serius gak masuk pesannya? Perasaan udah terkirim, apa gue salah nomor ya. Sinyal lo kali yang gak ada. Tadi ada tuh"balas Chelsea.

"Ketahuan kan lo! Emang sok sibuk. Caper sama gue bilang aja"tawa Bagas. Matanya menyipit ke arah Chelsea.

Chelsea menelan ludahnya, "pede banget sih lo. Ih" Chelsea mendengus kesal.

"Emang lo mau beli kado buat apa sama Karel?"tanya Bagas sambil berjalan.

"Lo bohong juga kan sama gue? Masuk kan pesannya? Dasar sok ngartis"tuding Chelsea sambil memukul pelan lengan Bagas.

Bagas nyengir, "Lo suka sama dia ya? Kenapa gak lo terima? Kasian tuh anak orang digantungin"tutur Bagas.

Perkataan Bagas membuat langkah Chelsea terhenti.

"Udah deh, pokoknya ntar temenin gue beli kado ya"pekiknya sambil mencoel hidung Bagas lalu berlari meninggalkannya.

Bagas yang ditinggalkan terpaku, "Ah elah. Dia mana tau"

×××

"Gimana?"

Suara lembut mengalun ditelinga Chelsea yang tengah duduk diam dibangku taman menunggu Bagas.

"Gas, jadi kan?" Ia menoleh.

Karel menaikkan alisnya, "Ketahuan ya, lagi mikirin Bagas"

Chelsea menggeleng, "Enggak. Aku kirain emang suaranya. Suara kalian beda tipis"

Karel tertawa kecil, "yasudahlah. Pulang bareng yuk? Terus gimana jawaban kamu?"

"Aa--"

"Woi Bro!" Bagas datang dan menepuk pundak Karel.

"Lo lagi dipikirin Chelsea gas,"imbuh Karel acuh.

Chelsea menautkan alisnya, "Apaansih. Engga ah"ketus Karel. Nih anak makin lama makin kayak kampret deh.

"Ah elah, nanti lo yang dipikirin,"balas Bagas. Karel mengangkat bahunya sambil melirik Chelsea dan Bagas.

"Btw ngapa lo disini?"tanya Karel. Bagas berdekhem, "jadi gak boleh?"

Karel tertawa ringan, "gue pulang bareng Chelsea dulu ya gas,"

Sebelum tangan itu merangkul tubuh perempuan diantara keduanya, Bagas melepas tangan tersebut.

"Gak muhrim, ada ada aja lo"cibir Bagas pelan.

Karel tertawa, Chelsea langsung menepis tangan lelaki itu, "Hari ini aku gak bisa pulang cepat. Ada yang harus diberesin nih, Hehe"

Karel terpaku sejenak. Alisnya mulai mengarah ke arah Bagas, mendeliknya sedikit. Maksud tajam itu,

"Lo pulang deluan aja kali. Tenang aja lo mah. Dia bakal nerima lo, ya kan?" senggol Bagas ke pinggang Chelsea. Mata perempuam itu memicing jelas ke arahnya, "Oke deh, Dah. Hati hati ya"tutur Karel pelan pada perempuan itu.

Bagas menatap punggung karibnya, lalu melirik sekilas ke arah Chelsea.

ToBeContinued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar