Rabu, 20 Mei 2015

Be My Baby #3

Be My Baby Chap3

×××

[Chap 2]

"Rumah gue bukan lewat jalan ini. Sotoy banget sih lo"

"Lo tuh yang sotoy. Udah berapa tahun sih lo disini? Sampe jalan tikut aja lo gak tau? Kalo lewat sini, lo mau sampe jam 5? Macet keles!"

Chelsea terdiam mendengar ocehan Bagas.

"Emang lo tau rumah gue?" dahinya berkerut.

"Taa-- gue tau dari Clement"

"Ooh" Chelsea tersenyum kecut. Ia merenggangkan pegangannya pada pinggang Bagas.

"Lo pegang kuat apa gue ngerem?"

Nih cowok sksd banget sih. Kelihatannya cuek banget, taunya🔤

"Rumah gue disana"

Shittttttttt

Bagas mengerem mendadak sebelum sampai rumah Chelsea.

Chelsea sampai terpelanting kalo tidak sempat Bagas memegang kedua tangan Chelsea di depan perutnya.

"Lo orang ternekad yang pernah ada ya!! Lo gak tau kalo misalnya gue kebanting jatoh?!"

Jantungnya berdebar. Dengan cepat ia menghela nafasnya.

"Tuh ada polisi tidur, gue gak liat"

'Plok'

Chelsea memukul kuat punggung Bagas, "gue turun. Bhay!!"

×××

Be My Baby Chap3

Melihat Chelsea turun dari ninjanya, Bagas menoleh.

"By the way, lo udah putus sama Clement?"

Chelsea menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap ke arah Bagas.

"Buka urusan lo!"

Bagas terdiam lalu menaikkan kedua alisnya, It's Okay.

Matanya menatap punggung perempuan itu.

×××

Sedari tadi, Chelsea hanya bisa mondar mandir. Sedangkan jam menunjukkan pukul 21.20 WIB. Gadis itu belum bisa tenang.

Hari ini tepat ia empat hari dengan Clement.

Sekarang apa besok?

Chelsea menggigit bibir bawahnya.

Setelah berpikir berulang ulang, Chelsea menghempaskan tubuhnya dikasur. Tangannya meraba ponselnya yang berada di dekat bantal.

Malam ini.


To : Clement

Ko, kita putus.

×××

Chelsea benar benar tidak bisa tenang. Dari tadi ponselnya berdering keras. Kalau tidak di silent-kan, ia tak akan bisa tidur.

29 Missed Called from Clement.

10 New Message from Clement.

Chelsea mematikan ponselnya. Ia harus bisa tidur sekarang.

×××

Chelsea keluar dari mobilnya. Menyandang tas ranselnya dibahu. Kacamata hitamnya ia buka ditengah saat ia berjalan.
Biasa, matanya sedikit risih dengan beberapa pandangan yang ditujukan padanya.

"Tunggu!"

Tiba tiba sebuah tangan mencekat lengannya dengan kasar.

Chelsea menoleh dan menatap malas sosok lelaki di depannya.

"Tolong jelasin apa maksud kamu semalam"

Chelsea tertawa kecil, "Memangnya salah kalau aku bilang putus?"

Tangan itu ditahan oleh Karel. Jika Karel tidak ada, tangan Clement sudah mendarat di pipi Chelsea.

"Dasar Banci! Beraninya sama cewek!"teriak Karel. Sekali hempasan, Clement tersungkur di koridor sekolah.

Dengan cepat Clement bangkit dan menatap sinis Chelsea, "Lo siapa? Mau sok sok-an jadi pahlawan kesiangan buat dia?"

Chelsea menghela nafasnya, "Apaan sih lo berdua"

"Ooh gue tau, lo gebetan baru Chelsea? Gue cuma peringatin aja sama lo, hati hati sama dia ya. Hubungan lo gak bakal bertahan lama. Dia cuma mainin perasaan lo aja. Gue sebenarnya gak nyangka, zaman sekarang masih ada cewek playgirl. Setau gue adanya playboy kali ya. Ternyata gue salah. Awalnya aja manis, tapi semuanya basi. Dan gue harap, lo gak jadi mantannya yang ke 25,"

Chelsea menelan ludahnya, "Dasar banci!! Terserah lo deh, mau nganggap gue apa. Yang jelas gue nyesel pernah pacaran sama lo!"

Karel mendaratkan pukulannya pada Clement.

"Gue gak peduli, lo senior gue kek. Lo gak nyadar, ngapain lo mau sama dia kalo lo tau seluk beluknya Chelsea? Dasar banci. Lo bisa aja dituduh ke bp, alasan pencemaran nama baik!"

Clement mengusap bibirnya yang sedikit luka. Sebelum dia hendak membalas pukulan pada Karel, Bagas datang dan menghadangnya.

Pukulan keras yang sudah diniatkan itu tak dapat ditarik lagi. Kepalan itu mendarat ke perut Bagas.

"Bagas" Chelsea membulatkan matanya. Semua terdiam.

"Udah puas kalian berantem?" Bagas meringis pelan, menahan perihnya pukulan yang ia dapat.

Chelsea maju membantu Bagas untuk berdiri.

"Gak usah!"

Chelsea terdiam. Awalnya ia ingin membantu Bagas lagi, namun Bagas dapat bangkit sendiri.

"Gue disini wakil murid. Semua murid yang bermasalah, yang tanganin gue. Kalian itu sahabat gue, kenapa mesti karna cewek kalian mau dapat skors sebulan?"

Bagas memicing matanya pada Chelsea, "bagusan lo out dari sini! Ini semua juga karena lo"

Chelsea terdiam, menelan ludahnya.

"Masuk! Lo masuk, atau lo ikut ke BP?!"

Chelsea terdiam, dengan pelan ia berbalik badan meninggalkan mereka semua. Tatapan semua anak anak yang mengelilingi mereka berempat beralih pada Chelsea.

"Derita cewek yang kerjanya mainin perasaan cowok ya begitu deh!!!"teriak Misel ditengah tengah kerumunan.

"Huuuuuuuuuuuuuu"

Chelsea menunduk.

"Beneran gak nyangka"

"Is gila. Cewek cantik begitu taunya"

"Awal manis tapi akhirnya pahit!"

"Ckckck"

×××

Chelsea menangis terisak di pelukan Marsha.

"Gue malu banget Sha. Sumpah!"

Marsha mengusap bahu Chelsea, "Lo juga harus nerima konsekuen dari apa yang lo buat Chel. Karena tuhan itu adil. Yang pasti ini jadi pembelajaran aja buat lho"

Chelsea terdiam. Baru kali ini ada mantannya yang berlagak seperti itu. Ia mengira bahwa Clement adalah orang yang mudah ditipu. Pembawaannya yang kalem, membuat Chelsea semakin berdaliksimpati padanya. Apalagi, dia anak baru disini, jadi dia belum tau pasti selukbeluk Chelsea.

"Ini"

Bagas berjalan menghampirinya dikelas.

"Ini apa gas?"tanya Marsha.

"Baca aja"

Chelsea melirik wajah Bagas yang sedikitpun tidak mau mengarah padanya.

"Buat?"

"Baca dulu aja."

Dengan ragu, Marsha membuka sebuah surat tersebut.

Chelsea memperhatikan raut wajah Marsha.

Gadia itu melirik takut ke arah Chelsea,

"Apa Sha?"

Marsha menyodorkan surat tersebut pada Chelsea.

"Gue diskors?"

Bibirnya masih tersenyum.

"Gue bawa nama temen lo Sha. Karena emang dia penyebab pertengkaran tadi kan. Mau disembunyiin juga gak bisa, semua anak juga tau ini ulahnya"

Chelsea mengangguk pasrah.

"It's Okay"

×××

Chelsea terima terima aja, dia mau diskors apa tidak. Dia juga gak ada yang meduliin. Mami papinya udah meninggal, dan Chelsea tinggal dirumah warisan kedua orangtuanya yang besar.

Untung dia masih mempunyai si mbok yang memang dikenalnya dari kecil dan mamang satpam kenalan papinya dari dulu, jadi ia tak merasa sendirian hidup.

"Mbok, Chelsea diskors "

Mbok Inem tersenyum, "kok bisa non? Bukannya non Chelsea itu murid yang paling baik dikelas" seorang mbok yang tau liku hidup Chelsea, hanya memberi kata positif saja padanya.

"Chelsea udah bikin anak orang babak belur"

"Memangnya non Chelsea jago berantem?"

"Bukan mbok. Chelsea yang bikin, dua anak orang berantem sampe babak belur"

"Memangnya apa yang non Chelsea buat?"

"Banyak mbok."

"Banyak gimana?"

"Chelsea udah mainin perasaan cowok."

"Non Chelsea udah besar ya sekarang. Pasti papi mami seneng banget, non Chelsea udah tumbuh kayak begini"

Chelsea menaikkan kedua alisnya.

Bingung

×××

"Halo. Apa kabar lo selama lima hari ini gak masuk sekolah?"

"Baik. Gue bantu bantu mbok. Beresin rumah. Gimana keadaan sekolah?"

"Biasa aja. By the way, kita jenguk ko Clement yuk"

"Enggak ah. Gue muak sama dia"

"Lah, gak boleh gitu. Katanya lo mau nerima konsekuennya"

Chelsea terdiam, lalu mengangguk. "I want to say something"

"Jangan bilang lo mau nembak dia"

Chelsea tertawa kecil, "kampret ah!!"

×××

Marsha dan Chelsea menekan bel rumah Clement.

Sebuah ninja putih mangkir di depan garasinya.

Seorang wanita setengah paruh baya membuka kan pintu, "Nyari siapa nak?"

"Ko Clementnya ada tan?"

Wanita muda itu mengangguk, "ayo masuk!"

×××

Chelsea menginjakkan kakinya dilantai rumah Clement.

Matanya langsung melirik ke arah dua orang lelaki yang sedang duduk antusias sambil memegang stik dan menghadap ke arah televisi besar

"Halo"sapa Marsha.

Chelsea tersenyum takut ketika keduanya melirik ke arah mereka.

"Eh lo Sha."tutur Clement.

"Sama Chelsea"sambung Bagas acuh.

"Kalian kenapa sih masih dingin aja sama Chelsea?"tukas Marsha.

"Udah besar mainannya playstation."gumam Chelsea.

"Enggak kok. Halo Chels"sapa Clement.

Chelsea memekik, "hai"

"Maafin gue ya ko. Gara gara gue, lo kaya gitu."

Clement tersenyum tipis, "Never mind. Koko Rapopo"

Chelsea dan Marsha tertawa kecil.

"Eh ya btw gimana keadaan sekolah? Chels, kamu gak kangen nih sama wakil murid yang udah nggunggah waktu skors kamu. Yang berani jamin ke kepsek, yang percepat waktu skorsan kamu, yang tadinya sebulan jadi dua minggu, yang dua minggu jadi seminggu, yang seminggu jadi empat hari?"

Chelsea memicingkan matanya, "maksudnya?"

"Eh koko kampret!!" Bagas membelalakkan matanya. Dengan cepat ia mempercepat stamina permainannya hingga berbunyi, 'Clement, you Lose'

Clement mendesis, "lo gak mau nembak nih orang Chels?"

Chelsea menelan ludahnya.

×××

ToBeContinuedGuys😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar