Ketika Hati Berkata #2
Langit kelam berganti mentari cerah saat kau datang mengubah duniaku. Kala itu kau berhasil membuatku jatuh ke dalam jurang hatimu. Saat itu belum dalam. Masih di tepian, dan ku pikir jurang itu dangkal.
Hari berganti hari, kau yang selalu membuatku tersenyum, menyatakan bahwa kau menyukaiku. Oh bukan. Kau menyayangiku, itu katamu. Dan tak lama setelah itu, kau menemukan mutiara putih di hatiku, dan berhasil mencurinya tanpa seiizinku. Saat itu aku malu ketika kau mengetahui bahwa aku membalas perasaanmu.
Ketika aku dan kau menjadi kita, ombak dan kegelapan malam mulai mengusik. Cercaan dan bualan marah mulai menampakkan diri sebagai jati dirinya. Namun, kita berhasil meloloskan diri dan bersatu kembali meskipun rinai mata telah mengarungi tepian wajah dan sesunggukan tangis dari mulut telah keluar dengan emosi yang terluapkan.
Ketika tiba suatu saat dimana aku berpikir kembali, bagaimanakah kita selanjutnya? Terbayang kecil ketika kita sudah terpampang resmi dan kala itu aku tertawa. Lucu sekali. Tetapi...
Aku lupa suatu hal. Aku lupa itu. Aku melupakannya. Bagaimana bisa aku lupa.
Bayangan itu selalu mengekoriku. Tak henti hentinya aku selalu berpikir, bagaimanakah ini jadinya?
Pernah kau layangkan sebuah lampu hijau di kisah kita. Namun itu tak menjamin kita tak berpisah.
Dan ketika aku tanyakan sebuah kalimat tak seronok di dirimu, kau langsung terpancing emosi. Bagaimanakah jika ini benar-benar terjadi?
Dalam gulita yang menyelemutiku kini, aku terpengkur dalam kesedihan yang mendalam. Kegelisahan tiada henti menghantuiku. Sebuah pertanyaan kecil muncul diotakku, apakah kau pernah berpikir sedemikian rupa sama sepertiku?
Aku tak sanggup membayangkanmu uring uringan karenaku. Dan sungguh aku tak sanggup.
Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Aku tak tahu apa yang harus ku perbuat.
Namun apa mau dikata, lebih baik merelakan orang yang sangat ku cintai pergi daripada menahannya berlama-lama dengan rasa sakit yang lebih tertohok tajam.
Asal kau tau, aku tak pernah mau menancapkan pedang ke arahmu. Lebih baik kita hentikan cerita kita sampai disini, karena ku yakin akan jauh lebih baik daripada bertahan pada cerita rumit yang terbataskan benteng kokoh diantara kita.
Sebuah kata maaf mungkin tak cukup menghapuskan bekas luka yang tergores di hatimu, tapi yakinlah bukan kau saja yang merasakannya, melainkan aku pun sama.
Jangan salahkan takdir karena kita pernah dipertemukan. Karena bagaimanapun, kita pernah bahagia bersama.
Dan jangan salahkan takdir pula, jika kita dipertemukan kembali, karena kemanapun kita berlari kalau aku adalah tulang rusukmu semua pasti terulang.
Satu hal yang kini ku minta, bisakah kau tidak membenciku? Karena sesungguhnya aku pun tak mau ini terjadi tetapi ini harus terjadi.
Yakinlah dibalik cerita ini ada pesan terkubur didalamnya. Bukan karena apa dan siapa, tetapi karena dirimulah aku mencintaimu.
Terimakasih sudah hadir dalam hidupku, dan berusahalah untuk melupakan aku.
Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.
Salam hangat,
Alya.
Minggu, 12 Juni 2016
22.12
Revisi : Senin, 13 Juni 2016
11.37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar